headerummary

Birth Story of Maryama

Post a Comment

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

24 April 2017, tepatnya 3 hari lebih cepat dari perkiraan hari lahirmu yang diprediksi dokter kandungan. Rutinitas malam Ummi adalah meminta papi membantu memijat area perineum yang bertujuan untuk mencegah koyakan saat melahirkan. Tidak ada yang terasa berbeda saat itu, kau tetap nyaman berada di perutku. Dan saat lewat tengah malam, Ummi terbangun kaget karena merasakan air ketuban pecah dan mulai membasahi area bawah. Sontak Ummi turun dari kasur dan jongkok di lantai beralaskan selimut, supaya kasur tidak terlalu basah, dan kain selimut menyerap ketuban yang seperti tumpah dari baskom itu. 

Papi ikut kaget setelah Ummi bangunkan dengan beberapa kali guncangan. Yang Ummi rasakan saat itu seketika takut, panik dan juga bahagia. Ummi takut kau akan kehabisan air ketuban karena yang keluar sangatlah banyak. Panik karena ini benar-benar diluar rencana. Namun Ummi bahagia karena pertemuan kita akan segera tiba. Dengan tetap memegang selimut di antara kaki, Ummi mencoba berdiri, dan berjalan menuju kamar mandi. Jam di dinding menunjukkan sekitar pukul 1 dini hari. Ummi putuskan untuk mandi lalu berganti pakaian. Papi, Mami dan Kakung menyertai kita menuju rumah sakit pilihan Ummi untuk melahirkan disana. Sepanjang perjalanan dada Ummi terus-menerus berdetak tak karuan, bibir tak henti berkomat-kamit memanjatkan doa dan memohon pertolongan Allah, seraya mengelusmu dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.

Hari ini hari Ahad, seharusnya subuh nanti Papi kembali bekerja ke Purwokerto, bersyukur kau akan lahir saat Papi bisa menemani. Namun takdir pertama berkata berbeda, dokter kandungan di rumah sakit swasta yang semula kira rutin memeriksakan diri kesana sedang off bekerja. Setelah pemeriksaan VT pertama, bidan menyarankan untuk langsung ke rumah sakit daerah agar bila terjadi sesuatu bisa dilakukan penanganan disana segera. Sebab dari hasil VT, belum terdapat pembukaan sama sekali, bila tak ada pembukaan lengkap tetap akan dirujuk operasi di RSUD. Ummi sudah mulai merasakan tidak nyaman ketika itu, namun berusaha tenang dan menuruti untuk pindah ke rumah sakit yang lebih besar. 

Ummi mulai terbayang-bayang dengan semua pelajaran yang Ummi siapkan untuk melalui proses persalinan. Termasuk mengurangi intervensi medis, seperti dalam kasus ini pemasangan infus. Apa daya, perawat disini mengatakan bahwa ini adalah protab untuk kasus ketuban pecah dini yang Ummi alami. Tujuannya agar tidak dehidrasi, dan kandungan nutrisi kita tetap terjamin. Ummi akhirnya pasrah. Dan saat VT kedua, sungguh tidak nyaman rasanya, hasilnya masih sama, belum ada pembukaan. Sambil menunggu ruang persalinan siap, Papi masih bersama Ummi untuk menemani dan meyakinkan diri Ummi. Kemudian perawat kembali untuk mengantarkan Ummi masuk ruang persalinan yang sungguh Ummi tak membayangkan sebelumnya. Sebuah ruang ukuran cukup besar berisi beberapa ranjang untuk para ibu yang siap bersalin beristirahat disitu, dan hanya disekat kain selambu. 

Papi terus menemani Ummi di ruangan itu, namun Mami dan Kakung harus menunggu diluar. Yaa Allah, hati Ummi rasanya mulai berdesir karena ruangan ini sungguh tak seperti harapan yang semestinya. Karena dalam bayangan Ummi, akan ada ruangan terpisah dari setiap ibu yang akan melahirkan, sehingga bila ingin berbicara atau membawa peralatan apapun akan terasa lebih nyaman dan diperbolehkan. Agar pembukaan lebih banyak, Ummi tidur menghadap kiri. Hanya rebahan tepatnya, Ummi sama sekali tak bisa memejamkan mata. Begitu banyak air yang Ummi harus konsumsi agar produksi ketuban dapat tercukupi, pikirku kala itu. Berkali-kali Ummi buang air kecil dan Papi mau tidak mau sukarela membantu memasang pispot, membuangkannya ke kamar mandi dan membersihkan Ummi. Papi tampak kelelahan dan mencoba duduk tertidur dalam posisi duduk. Terlihat jelas ia pun tak nyaman dan membatasi keinginan Ummi, seperti meminta mengambilkan gymball, memintaksn ijin untuk berjalan-jalan dan memijat area puting untuk merangsang pembukaan. 

Hari beranjak pagi, Ummi tetap terjaga dan mencoba bermain handphone untuk mengalihkan bayangan-bayangan yang tak mengenakkan. Ummi tetap mencoba mengisi perut dengan makanan agar stamina tetap baik dan terjaga. Ummi mengabari Umik bahwa Ummi berada di rumah sakit saat ini. Umik dari Kediri segera berangkat ke stasiun dan memesan kereta yang akan membawanya ke Purworejo tempat Ummi akan melahirkan.

Seorang ibu di sebelah Ummi sudah mulai merasakan perut yang kontraksi, dan suaranya benar-benar membuat Ummi panik dan terus mencoba untuk tetap bersabar. Sang ibu terus merintih hingga dokter jaga memarahinya, sungguh kondisi ini membuat hati yang ikut mendengarnya tak karuan. Bukankah lebih baik jika tenaga medis membantunya dengan mengatur nafas daripada membentuknya seperti itu. Apalagi sang ibu sendirian, hanya terkadang ada seorang perempuan setengah baya terlihat membantunya. Hingga beberapa waktu berlalu sang ibu masuk pembukaan sepuluh dan diperbolehkan mengejan. Mengejan dengan posisi klasik, yakni telentang dan dipandu bidan layaknya kerumunan tukang parkir yang memberi aba-aba. Ummi ikut berdoa demi kelancaran sang ibu, dan alhamdulillah tak lama terdengar suara tangisan bayi kecil di tengah ruangan. Ahh pasti sudah lega sekali perasaan ibu itu karena telah berhasil melewati proses persalinan dengan lancar. 

Siang menjelang, Ummi melihat wajah Papi dan memegang tangannya, supaya Papi terus kuat dan sabar membantu Ummi melewati semua ini. Umik sudah datang dan ikut memberi dukungan, Mami pun bergantian masuk ruangan untuk menyumbangkan kekuatan. Ummi ijin pergi mandi dan berganti pakaian. Segar sekali rasanya saat air menyentuh badan, terutama Ummi diperbolehkan duduk dan berjalan. Tak lama rasa mulas perlahan hadir, Ummi mengira inilah awal rasa kontraksi itu. Bidan melakukan VT ketiga, katanya baru masuk pembukaan satu, waktu itu menunjukkan pukul 11 bila tak salah mengingat. Syukurlah ada kemajuan, batin Ummi. Sorenya saudara-saudara Papi datang berkunjung, mereka bergantian masuk ruangan untuk memberikan semangat dan terus bersabar. Semuanya sama tak sabar ya menanti kehadiran u Nak. Hingga 5 jam berlalu, pemeriksaan VT keempat, mengabarkan pembukaan dua, Ummi tak henti berdoa dan mengelusmu agar kita sama-sama berjuang untuk segera bertemu. 

Rasa mulas semakin intens dan menguat, Ummi yang hanya dapat rebahan di kasur merasakan kontraksi itu seperti di dalam perut ada yang menekan. Sembari mengalihkan perhatian, Ummi mencoba menggaruk-garuk barang di sekitar Ummi dan tetap berdoa ketika mulas terus datang. Mencoba tetap ber-afirmasi positif bahwa semua ini akan berlalu. Pukul 17.00 lewat, pemeriksaan VT kelima, pembukaan masih tetap dua, tidak ada kemajuan signifikan. Ummi mulai cemas, semakin galau ketika bidan memberikan pilihan untuk dilakukan proses pacu. Ummi tak sanggup membayangkan bahwa proses pacu akan membuatmu stres di dalam sana, karena dipaksa lahir diluar waktu. Rasa sakit yang tak bisa ditahan pun membuat kepala tak bisa berpikir sehat. Ummi ingin menyerah. Dokter kandungan yang berjaga, memberikan opsi apakah akan langsung caesar karena Ummi ada riwayat mata minus tinggi yang ada kemungkinan membuat kelukaan pada retina mata, yang sebelumnya telah diperiksa oleh spesialis mata bahwa keadaan retina Ummi tipis namun tetap memungkinkan melahirkan spontan. Umik yang berdiri di sebelah Ummi setuju pilihan itu, karena khawatir Ummi pun tak sanggup menahan sakitnya dipacu hingga pembukaan lengkap. 

Maafkan Ummi Nak, Ummi mengiyakan untuk dilakukan caesar. Selain mempertimbangkan bila dipacu kau akan stres di dalam sana, Ummi pun sudah tak kuat menahan rasa mulas yang tak dapat dialihkan ini. Diantara rasa lelah dan stress, Papi menanyakan kembali apakah Ummi yakin akan melalui caesar, padahal sebelumnya kami sepakat apapun yang terjadi Papi akan mendukung Ummi untuk melahirkan spontan. Papi sudah membantu Ummi sejauh ini, tapi Ummi benar-benar sudah tidak kuat menahan. Disaat akan dipasang kateter, seorang bidan rese memaksa untuk melakukan VT yang keenam, yang katanya kemungkinan ada tambahan bukan setelah perabaannya. Rasanya Ummi ingin menendang bidan itu yang tidak melihat kondisi Ummi sedsng kepayahan. Terlebih saat dipasang kateter, Ummi tak kuasa menahan tangis, karena merasa sangat tidak nyaman dengan semua keadaan ini. 

Setelah Papi tanda tangan persetujuan operasi, Ummi dibawa masuk ke dalam ruang operasi untuk diganti baju dan petugas medis melakuksn berbagai persiapan. Sedih sekali, Papi tak bisa ikut menemani di dalam ruangan, termasuk membawa handphone guna mendengarkan murottal Qur'an pun tidak diizinkan. Katanya ruangan operasi adalah ruangan steril. Papi melepas tangan Ummi dengan tatapan prihatin, Ummi meyakinkannya bahwa Ummi dan kau akan baik-baik saja. Ummi meminta semua yang menunggu untuk mendoakan kita. Perlahan kereta dorong masuk ke dalam ruang operasi yang begitu dingin. Ummi hanya berpakaian kain operasi tipis tanpa selimut, tanpa ada siapapun yang mengajak bicara. Ummi sangat takut Nak berada di dalam sana. Ummi melihat ada seorang dokter muda perempuan sedang mencatat sesuatu, dan dokter kandungan yang berjaga di ruang bersalin tadi sudah disini sedang bermain handphone. Kata mereka ruangan ini steril, tapi kenapa dokter itu diperbolehkan membawa gadget nya. Rasa mulas terus perlahan datang dan Ummi hanya bisa menahan sendirian dalam diam. 

Satu persatu tim bedah berdatangan, hati ini terasa makin kalut karena beberapa petugasnya adalah laki-laki. Ummi sudah pasrah, karena tidak punya pilihan. Yang terpenting pikir Ummi kala itu, engkau segera lahir dengan selamat sehingga kita bisa cepat berpelukan. Dokter anestesi laki-laki memberikan ijin untuk mulai mengatur tubuh Ummi sebelum obat bius dimasukkan melalui sumsum saraf tulang belakang. Suaranya sangat keras dan tegas, membuat Ummi tidak bisa berkutik selain mengiyakan. Setelahnya Ummi kembali rebahan dan alat-alat kontrol jantung dan tekanan darah mulai dipasang. Semua tim sudah bersiap dan pembatas diperut juga dibentangkan. Ummi masih dapat merasakan saat alat-alat bedah mulai menyentuh perut Ummi. Ummi berteriak dan menanyakan hal itu, kata mereka tidak apa-apa, sebab obat bius hanya menghilangkan sakit, namun terkadang rasa-rasa yang kurang nyaman masih dapat dirasakan. Perawat laki-laki berdatangan dan memasang kain, belum terasa bius menghilang, mereka membuka baju bagian bawah Ummi dan menutupnya dengan kain. Ummi tak kuasa menahan kesedihan mengetahui hal ini, sungguh persalinan ini tak sesuai harapan Ummi. 

Di tengah proses operasi, air infus tak menetes, seorang perawat laki-laki tua datang dan dengan keras memompa selang di tangan Ummi. Ummi mengaduh namun tak dihiraukan. Hawa dingin ruangan ini semakin menjadi-jadi dan membuat badan Ummi merinding. Perawat tua datang lagi membawa kain tipis untuk diletakkan di dada Ummi, sesaat setelah Ummi mengatakan bahwa sekujur tubuh rasanya membeku. Ummi merasakan kau akan segera lahir karena muncul tekanan besar di dalam perut. Ummi reflek berteriak karena rasanya tidak nyaman, Ummi terus mengaduh dan menangis sembari memukuli pantat dokter yang berada di sebelah kanan Ummi. Ummi memarahinya karena dada Ummi terasa sakit sebab ia mencoba mendorongmu keluar. Dokter anestesi yang semula tenang, ikut gaduh berteriak di ruangan. Dokter itu mencoba menenangkan Ummi dengan mengatakan semua akan baik-baik saja, seraya menepuk-nepuk pipi Ummi dengan cukup keras agar Ummi sadar dan berhenti menangis. 

Tak berapa lama, tangismu terdengar dan perawat perempuan menerimamu dan langsung membungkusmu dengan kain lembut yang sudah Ummi siapkan dalam tas persalinan. Perawat itu mendekatkanmu dengan pipi Ummi. Alhamdulilah Nak, dengan berat 3,8kg dan wajah tembem merona, kau terlahir selamat, Ummi begitu ingin dapat memelukmu. Selesai proses pembedahan, Ummi berusaha tidak menangis lagi. Di luar Ummi bertemu Papi, Umik, Mami dan Kakung yang bergantian mencium Ummi dan memberikan selamat. Namun kau tak terlihat, katanya sudah dibawa ke ruang bayi. Dan Ummi pun dibawa ke ruang pribadi untuk beristirahat juga. 

Sudah pukul 21.00 menuju 22.00, Mami dan Kakung pamit pulang. Umik dan Papi meminta Ummi untuk memejamkan mata. Namun Ummi tak bisa. Dalam sekejap terdengar dengkuran Papi dan Umik yang sudah terlelap. Mungkin mereka kelelahan karena telah menemani Ummi seharian. Ummi membuka video mu yang tadi sudah dikirim oleh Papi dan Umik. Kau menangis kencang tanpa Ummi bisa menggendongmu. Apa kabar kau di ruang bayi Nak, tidakkah kedinginan, tidakkah haus dan kelaparan? Ummi kembali menangis ingin kau berada berdampingan dengan Ummi disini. Memberikan asi pertama agar kau merasa nyaman dan hangat. Tetapi untuk menggerakkan badan saja Ummi tak sanggup, sungguh bekas sayatan di perut terasa sangat sakit hingga membuat badan kaku. Ummi tidak bisa memejamkan mata hingga lewat tengah malam. Ummi mencoba terus menatap wajahmu dari layar handphone dan mendengar suara nyaringmu sambil menutup mata. Ummi tak sabar bertemu denganmu esok hari, di hari pertama kau akan merasakan nikmatnya minum asi. Diantara air mata yang masih mengalir, Ummi bergumam, tidurlah dengan nyenyak Nak, maafkan Ummi yang tak bisa mendampingimu malam ini.
Ummi Maryama
Teman mainnya Maryam dan Hisham | Islamic Parenting - Home Education - Healthy Lifestyle Enthusiast | Partner belajar sekaligus pembelajar Al Qur'an

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email