headerummary

Pendidikan Fitrah Seksualitas Sejak Dini

Post a Comment

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Pendidikan Fitrah Seksualitas Sejak Dini

Dipresentasikan oleh Kelompok 2 : Hessa, Intan, Indah, Nisa, Tika, Saefa


Link Download File: KLIK DISINI

Sesi Tanya Jawab

1.
Nama : Oki 
Pertanyaan :
Apakah permainan anak harus disesuaikan dengan gender anak?
Bagaimana dg anak yg suka main masak2an ?

Jawaban :
mainan sesuai gender ini lebih kepada hal-hal yang lebih spesifik sifatnya.
misalnya cowok lebih ke mainan-mainan yang maskulin.
anak-anak cewek lebih ke mainan yang feminim.

menurutku pribadi, anak cowok main masak-masakan ini ga ada masalah. Allah juga memberikan peran para lelaki untuk berprofesi sebagai koki/chef. Sehingga masak-masakkan bukan hal yang terlalu feminis. 
kalau anak cowok main boneka barbie, boneka bayi, make up, nah ini memang hal yang salah.

tapi kalau boneka binatang gimana? menurutku pribadi, ini ga masalah. toh, terkadang kita mendongeng itu butuh media. dan tak jarang menggunakan boneka binatang sebagai media dongeng, dan sifatnya universal, anak cowok maupun anak cewek.

Tambahan Pertanyaan dan Tanggapan :
Tapi ada beberapa laki2 yg berprofesi sebagai desainer atau MUA, itu menurut mb hessa bagaimana?

Terkait hal ini, sebenarnya ga ada masalah.
Banyak jajaran desainer kondang itu berjenis kelamin laki-laki dan maskulin.

Namun kita juga melihat realita pada umumnya desainer pria itu melambai, gitu kan ya?
Menurutku, jika sejak balita mslh fitrah seksualitas ini sudah didengungkan, aku rasa desainer pria pun tidak jadi melambai.

Anak anakku kalo mainan bareng 
Misal masak masakan 
Ya masakan semua, yg cowok ngikut juga
Giliran mobilan.ya bareng juga

Fakta pada saat ini menunjukkan bahwa jenis mainan anak amatlah banyak. Dan dari jumlah tersebut, jenis-jenis mainan tidak mutlak terbagi untuk gender laki-laki dan perempuan. Ada banyak jenis mainan yang bisa dimainkan bersama, seperti balok, lego, play doh, rumah-rumahan dengan segala peralatannya, pasir, dan banyak mainan edukatif lain. Hasil pengamatan saya ketika sejumlah anak laki-laki dan perempuan bermain bersama, tetap ada perbedaan kecenderungan mereka dalam memainkan mainan umum tersebut. Misalnya anak laki-laki lebih suka menyusun lego menjadi kendaraan atau bangunan bengkel, sementara anak perempuan lebih suka menyusun istana dan kebun cantik.

Dalam kondisi anak laki-laki dan perempuan bermain bersama, untuk menstimulasi kemampuan kognitif dan motorik anak, pemberian mainan tetap  dapat bervariasi. Lalu biarkan mereka memainkannya sesuai imajinasi mereka. Pendampingan dan pengarahan dari orang tua berperan dalam menjaga permainan agar tidak menyimpang. Selanjutnya mungkin kita akan mendapati anak-anak laki-laki dan perempuan berada dalam permainan bersama dimana mereka bekerja sama dengan tetap memposisikan diri mereka sesuai gendernya.

Pendapat Ahli :
Pentingkah memfasilitasi anak dengan mainan sesuai gender? 
dr. Markus menyatakan bahwa Gender itu penting, namun tidak mutlak dari awal harus dibatasi ini itu, yang pasti tetap perlu diarahkan.

Mengenalkan mainan sesuai gender bisa dimulai sejak usia anak 2 tahun (dr. Markus Danusantosa, SpA.)

Kalau ternyata anak lebih memilih mainan tidak sesuai gender, arahkan cara bermainnya. Misalnya anak perempuan cenderung memilih main mobil-mobilan. Saat anak itu memainkan mobil-mobilan, ambilkan boneka. Ini agar dalam proses permainan ada dua benda berbeda. Seolah-olah kita bandingkan mainan. Kita tidak perlu kaku membatasi bahwa ini mainan anak laki-laki dan itu mainan anak perempuan. Bisa dengan pengalihan seperti memasukkan unsur feminin pada anak perempuan, atau unsur maskulin untuk anak laki-laki.

Orangtua perlu memperhatikan mainan yang akan diberikan pada anak-anak. Orientasi jangka panjangnya adalah menjaga anak-anak dari perilaku menyimpang. Pemberian mainan edukatif yang tepat sesuai jenis kelamin diharapkan dapat membantu membentuk karakter dan kepribadian anak. Akan lebih baik jika ayah bunda membelikan mainan edukatif yang mengandung nilai-nilai religi.

2.
Nama : Widi 
Pertanyaan : 
Sepenting apa membedakan mainan sesuai gender? Batasan gender ini seperti apa? Apakah terkait pekerjaan yang umum dilakukan oleh Ayah atau oleh Ibu?


Jika terkait dengan pekerjaan sebagai Ayah atau Ibu, bagaimana mensiasati agar mainan yang dibatasi gender ini tidak meneruskan budaya patriarki yang membuat seorang ayah tidak peka untuk membantu Ibu dan serba dilayani.

Jawaban :
Sebagian sudah terwakili jawaban di atas
menurut pendapatku pribadi, terkait anak laki-laki maupun perempuan wajib dikenalkan tentang tugas-tugas domestik.
kalau aku, sambil tak ceritain tentang kebiasaan Rasulullah.

bahwa budaya yang harus diteladani adalah budayanya Rosul. sehingga masalah pekerjaan rumahan, anak laki pun harus ikut andil, seperti nyapu, ngepel, cuci piring, dan sebagainya.

lebih memberikan pemahaman bahwa tugas ayah adalah menafkahi keluarga, dan ibu menjaga amanah dari Allah, yaitu anak-anak. akan tetapi untuk masalah pekerjaan rumah, adalah tanggung jawab bersama.

3.
Nama : Ayuk
Pertanyaan :
Untuk tokoh idola, saya sudah mengenalkan tokoh wanita penghulu surga terlebih dahulu. Tetapi Queen paling hafal memang nabi Muhammad.
Nah apakah saya harus menambah porsi untuk membacakan tokoh idola sesuai gender?

Jawaban :
menjawab pertanyaan dek @⁨Iip Ayu Bunsay⁩ tentang tokoh, sebenarnya tidak harus tokoh-tokoh yang terkenal. bisa juga loh dari lingkungan sekitar atau keluarga. jika ada tokoh wanita yang memang mewakili "fitrah keibuan" bisa banget dijadikan bahan untuk bercerita ke queen. sehingga anak py gambaran tentang sosok ibu.

sesekali cerita tentang sahabat-sahabat wanita Rosulullah. Namun, kisah tentang Rasul dan para Nabi serta sahabat-sahabat Rasul pun adalah hal baik banget.

Yang Saya Petik dan Pelajari

Pentingnya mengenalkan fitrah seksualitas kepada anak sejak dini, sebab hal ini dapat menjadi bekal mereka tumbuh dewasa kelak. Dari hal-hal yang tampak dan sederhana, orang tua dapat mengajarkan anak-anak mengenal pribadi mereka. Contohnya seseorang terlahir hanya ada 2 jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki perbedaan fisik yang tampak jelas, dan kepribadian yang tak serupa. Seiring dengan menjelaskan perbedaan itu, berikan pengertian dan perhatian mengenai fitrah seksualitas sesuai usia anak. Karena beda usia tentu saja beda pemahaman dan kebutuhan pengetahuan, serta teruslah menggiring dan mendampingi mereka hingga tumbuh menjadi manusia dewasa yang sesuai dengan fitrahnya.

Dapat dimulai dengan memilihkan mainan sesuai gender, mengenalkan rasa malu dan bagian-bagian aurat, adab-adab berpakaian, mengagumi tokoh laki-laki untuk anak laki-laki dan tokoh perempuan bagi anak perempuan, memisahkan tempat tidur, dan beberapa tahapan lain sebagai tolak ukur sesuai yang tercantum di dalam file. Tujuan akhir dari pengenalan fitrah seksualitas sejak dini adalah 
untuk menumbuhkan fitrah keayahan bagi anak laki-laki, dan kebundaan bagi anak perempuan. 
Ummi Maryama
Teman mainnya Maryam dan Hisham | Islamic Parenting - Home Education - Healthy Lifestyle Enthusiast | Partner belajar sekaligus pembelajar Al Qur'an

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email