headerummary

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Membangkitkan Seksualitas

Post a Comment
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Membangkitkan Seksualitas

Dipresentasikan oleh Kelompok 4 : Anita, Anni, Azni, Astiti, Dessy, Wiwit, Yuni, Artika

Link Download File : KLIK DISINI

Sesi Tanya Jawab 

1. Pertanyaan bunda @⁨Farikhah Bunsay⁩

Mba, mau nanya ya
Misal nya di usia 7-10 anak laki2 tdk dekat dg ayahnya krn sdh meninggal, lalu wali misal kakek atau paman dia sibuk krj,hanya sesekali sj berdekatan
Lalu setelah dia dewasa apakah harus diulangi proses mendekatkan nya dg figur laki-laki?

Jawaban 

Dalam FBE memang disampaikan bahwa usia 7-10 tahun bagi anak lelaki harus dekat dengan sosok ayah. Apa yang terjadi jika sosok ayah hilang dalam rentang usia ini? Dampaknya bisa jadi pemahaman tentang tugas/ peran lelaki dari sosok ayah menjadi minim. Untuk itu tetap perlu mencari figure lelaki baik dari pihak keluarga maupun komunitas yang tepat (guru/ ustadz) agar pemahaman hal tersebut dipenuhi meski beranjak dewasa.

Terkadang orang tua yg utuh pun kalau minim pemahaman mengenai fitrah yang harus dituntaskan juga sosok ayah tidak bisa menjadi figure buat anaknya .contoh ada teman yang dia mengakui kalau yang mnjd figure dia menjadi sosok yg alim adalah tetangganya yg seorang muadzin,tiap hari muadzin tersebut lewat didepan rumah untuk menyegerakan ibadah. Sehingga sampai dia dewasa dia selalu mengidolakan orang tersebut dan membuatnya semangat menjalankan ibadah dan perannya sebagai seorang ibu dan pembisnis, dia saat ini juga sedang fokus menuntaskan fitrah anaknya.

tambahan mba🙏
ini yang saya baca dari homirie.com
Dalam kasus keduanya sudah meninggal, kewajiban mengawal fitrah seksualitas ini seharusnya berpindah ke tangan orang tua walinya atau pihak panti asuhan yang dipercaya.
Yang terpenting saat ini adalah, sebanyak mungkin orang dewasa bisa mengerti bahwa kewajiban mengawal fitrah seksualitas anak (tidak harus anaknya sendiri) itu ada.

Tambahan Pertanyaan dan Tanggapan 

Berarti pengganti figur ayah tidak juga harus sodara seperti kakek paman gitu ya mba
Bisa juga dikenalkan dg figur lelaki yg tdk ada hubungan darah,tapi bisa mjd teladan begitu ya..agar jgn smp ketika aqil baligh anak laki2 tdk punya figur laki2 yg bisa dicontoh

Ini contohnya adalah suami saya sendiri, saat ini menjadi ayah yang hebat versi saya dengan pemahaman Islam yang lumayan baik insya allah padahal tidak ada sosok ayah baginya dari bayi, kasih sayang dari pamannya dan pemahaman agama dari guru ngaji di kampungnya yang merangkap sebagai guru agama di sekolah. Begitu pun saya pengganti ayah saat ayah jauh adalah kakek dan menjadi superhero saya disaat golden age. Kenangan bersama almarhum sampai sekarang sangat melekat kuat alhamdulillah

2. Pertanyaan dari @⁨Ummi Maryama⁩

Bismillah
Mba kalau masih boleh bertanya
Orang tua yang memandikan anak berlainan jenis dengan dirinya, apakah ada ketentuan maksimal batas usia? Begitu pula saat menemani tidur/ngeloni.

Anak perempuan ternyata punya batas usia saat harus dimandikan si ayah nih, Bun. Psikolog dari Mayapada Hospital, Adisti F. Soegoto, MPsi mengatakan, biasanya di usia 3 hingga 5 tahun ketika pemahaman anak tentang tubuh dan gender sudah mulai agak jelas. Nah, di situlah batas ayah memandikan anak perempuannya.

"Misal, aku perempuan, ayah laki-laki. Aku perempuan punya vagina, adikku laki-laki punya penis biasanya usia 3 sampai 5 tahun udah ada awareness. Jadi ketika anak tersadar hal itu, oke orang tua pun mulai komit anak perempuan dimandiinnya sama ibu bukan ayah," papar psikolog yang akrab disapa Adis saat ngobrol dengan HaiBunda.

Pada usia-usia ini, orang tua juga bisa sambil mengenalkan alat kelamin ke anak. Misal, si anak melihat ibunya buang air kecil berdiri dan melihat ibunya punya vagina dan si kecil sendiri punya vagina.

Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika mereka umur tujuh tahun dan pukullah jika mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud)

Jadi batas max ortu memandikan anak yg berlainan jenis usia antara 3-5th dan batas menemani tidur 10th ya

Tambahan Tanggapan 

Menurut Efnie Indrianie, seorang psikolog anak, mengungkapkan bahwa batas usia anak boleh mandi bersama orang tua adalah saat berusia 5 tahun. 
Saat usia tersebut organ reproduksi pada anak mulai berkembang, sehingga respons seksual mulai dapat dirasakan.
Oleh karena itu, ajarkan anak untuk bisa mandiri membersihkan kemaluannya sendiri tanpa harus dibantu oleh orang tuanya. 

Jika Moms masih memanjakan anak, maka dia akan mulai menikmatinya sebagai rangsangan seksual.
Jadi bagi Moms yang masih bingung mengenai hal ini, sebenarnya ini merupakan sebuah pilihan. Semua tergantung pertimbangan Moms terhadap anak.
Namun amannya, anak usia 3-5 tahun mulai diajarkan mengenai privasi. 

Selain itu, tutuplah pintu kamar mandi saat menggunakan toilet. 
Dan juga tutup pintu kamar tidur saat Moms berganti pakaian dan ajarkan anak untuk melakukan hal yang serupa.

Pengalaman saya juga saat anak sudah memahami organ vitalnya maka saat itu diajarkan mandi sendiri. Anak yang laki-laki walaupun kadang dimandikan saat-saat tertentu maka saya usahakan tidak memegang alat kelaminnya, saya suruh dia sendiri yang bersihkan dan kalau tidak sengaja terpegang saat memandikan maka saya meminta maaf. 

3. Pertanyaan dari mba @⁨Nur Hamidahnungs-alBadar⁩ 

Assalamu'alaikum mb Desy mau bertanya bagaimana cara mendekatkan anak putri dengan ayahnya, karena ank tersebut berada di pesantren, selama ini hubungan baik2 saja akan tetapi biar menumbuhkn bahwa cinta pertamanya adlh ayahnya , karena komunikasi di pesantren hanya dapat jatah 3 kali dalm sebulan lewat tlphn pengurus.Karena selama ini prosentase kedekatan ank2 lebih banyak dengan ibunya curhat juga lebh leluasa dengan ibunya terima kasih. 

Jawaban 

share pengalaman saya, tapi ini anak laki-laki saya usia 12 tahun, dengan saya...
10-14 tahun kedekatan pararel ya,
Yang banyak telfon saya, yang banyak berinteraksi saya.
Pada waktu perijinan keluar yang menemani belanja saya, saya ambil alih mba.
Yang banyak bertanya, ngobrol perasaannya saya.

Izin menanggapi, walaupun saya belum ada yang di pesantren tapi saat baca bukunya teh KiBar tergambar bagaimana beliau selalu menghadirkan sosok ayah dalam ceritanya atau pengambilan keputusan jadi mereka tetap merasa ada peran ayah disitu. Pengalaman saya saat abinya keluar kota misalnya saya selalu menghubungkan mereka dengan video call atau saat saya yang vc dengan suami saya ajak anak-anak menyapa. Pengambilan keputusan misalnya ingin membeli mainan atau pakaian maka saya selalu sertakan tanya abi dulu ya. Jadi anak akan merasa kehadiran ayahnya walau tidak secara fisik. Wallohu'alam

Menghadirkan sosok ayah lewat ibu.
Bahwa Beliau (ayah) tetap memberi peran dalam kebijakan keluarga meski scr fisik g nampak atau berjauhan.

4. Pertanyaan dari mba @⁨Ietha Junita⁩ 

ada seseorang yang sejak lulus SD sudah dimasukkan ke pondok  pesantren hingga lulus SMA, bahkan sampai kuliah dia tdk pernah tinggal serumah dengan ortunya karena merantau.
Setelah menikah ia merasa shock luar biasa menghadapi rumah tangganya, rasa percaya dirinya seperti hilang, dan seringkali putus asa ketika dihadapkan masalah rumah tangga.
Apakah ini termasuk sebab karena kurangnya peran ortu dlm mendidik ank ny?

Jawaban 

Menurutku iya,
Lagi2 mengutip di fbe ya 🤭
Banyak riset modern yg meneliti anak2 yg berpisah dari orangtuanya sejak dini dari usia 3-13th menemukan bahwa pemisahan ini memicu kesedihan, kecemasan mendalam, ketidakpercayaan pada hubungan dekat atau memiliki masalah kelekatan, luka kejiwaan, ketidakpekaan, penolakan dll
Dijumpai bahwa anak2 yg merasa secure aman dan nyaman bersama kedua orangtuanya sejak dini sampai usia aqilbaligh (13-14th), maka selama masa anak-anaknya akan memiliki emosi positif, mandiri, ceria dst.

Lalu ketika mereka dewasa akan lebih mudah menjalin hubungan yang panjang dan penuh kepercayaan diri yg tinggi, mudah mencari dukungan sosial dst.
Jadi itulah pentingnya kehadiran orangtua dengan anak terutama pada usia dini sampai aqilbaligh
(agnita doti)

Ini mungkin sudah ada yang nonton, menjaga fitrah seksual anak dari segi islam/Tarbiyah Jinsiyah dari Ustadz abu Salma, insyaaAllah komplit.. Terutama peran ayah sejak pemberian nama anak, hingga tugas ayah menjaga anak perempuannya sampai dipinang. 


Download materi Ustadz Abu Salma klik link ini https://drive.google.com/file/d/1_xmF5Owd3cdOaA1i8Z_YyIu5Cz_cqr0i/view

Yang Saya Petik dan Pelajari 

Dalam suatu komunitas kaum Gay saat ditanya kenapa mereka menjadi gay, terbanyak dari mereka menjawab : Sejak kecil tidak punya sosok ayah. Sejak kecil tidak pernah ada stimulasi ayah. Semua pengasuhan oleh ibunya tidak pernah mengenal ayah.

Peran Ayah dalam membentuk fitrah seksualitas :
  • Menuntun anak untuk paham dengan peran sosialnya
  • Ketegasan dalam berucap dan memimpin akan ditiru anak
  • Melakukan tindakan yang maskulin dalam kesehariannya
  • Bagi anak lelaki, ayah juga mengajarkan tentang apa itu mimpi basah, organ vital anak lelaki. Usia 10-14 tahun, ayah harus dekat dengan anak perempuannya. Dari sini anak belajar bagaimana memperhatikan,memahami dan memperlakukan lelaki lewat sosok sang ayah.
  • Sebagai tempat curhat anak
  • Sosok yang dikagumi anak. Surat An Nisaa’ ayat 34: Bahwa kaum laki-laki itu adalah pemimpin (Al Qowam) bagi wanita.

Kedekatan Pararel sang ayah :
  • Membuat anak secara imaji mampu membedakan
  • sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara ilmiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya.
  • Baik cara berpakaian, berbicara maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai laki-laki dan perempuan dengan jelas.
  • Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga dengan tegas berkata, ”Saya perempuan” atau “saya lelaki”.
Ummi Maryama
Teman mainnya Maryam dan Hisham | Islamic Parenting - Home Education - Healthy Lifestyle Enthusiast | Partner belajar sekaligus pembelajar Al Qur'an

Related Posts

Post a Comment