headerummary

Peran Orang Tua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas

Post a Comment
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Peran Orang Tua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas

Dipresentasikan oleh Kelompok 3 : Cinantya, Fahmanurdian, Galuh Rakhma, Ilik, Lena, Nafsiah

Link Download File : KLIK DISINI

Sesi Tanya Jawab 

Pertanyaan 1

Oky Yuwanti
Ketika usia anak 0-2 th, anak didekatkan dengan ibu dg menyusui. Lalu, dimasa itu apa peran ayah lainnya selain mendukung proses meng-ASI-i?

Jawaban

Pada usia 0-18 bulan, fitrah seksualitas anak pada fase oral. Tahapan pada fase oral ini jika dibreak down ada beberapa tahap.

0-3 bulan, dimana eksplorasi kemampuan anak melalui proses menyusu. Sehingga pada fase ini seyogyanya anak didekatkan pada ibunya. Sedapat mungkin menghindari penggunaan dot. Karena pada fase ini, sebaiknya dihindari anak bingung puting.

3-6 bulan, pada dasarnya masih sama. Biasanya pada fase ini ada beberapa anak yang memperoleh kenikmatan oral melalui jari - jari tangan. Mulai menanam sedikit demi sedikit rasa kepercayaan diri. Pendampingan orang tua lebih ke menjaga kebersihan tangan, bukan mencegah anak mengekplorasi fase oralnya dengan tangan.

6-12bln. Pada fase ini, mulai memasukkan segala sesuatu ke mulut. Pengenalan makanan, benda yang boleh masuk mulut atau mana yang bahaya. Perlahan lahan. Pada fase ini organ pencernaan makanan mulai tumbuh, seperti mulai tumbuh gigi yang membuat anak makin suka memasukkan segala sesuatu ke mulut.

12-18bln. Pemantaban, pendampingan oleh kedua orang tua. Mulai toilet training.

Peran orangtua pada fase 0-24 bulan:
1. Ibu=bekaitan dengan menyusui, menumbuhkan bonding, memupuk rasa kepercayaan diri
2. Ayah=menghadirkan sosok ayah sangat penting, pendampingan saat bermain, sosok melindungi dan mengayomi, tidak ada salahnya ayah ikut serta dalam proses belajar makan adik.

Ijin menambahkan, ayah dapat pula membantu ibu   dengan cara membantu meringankan tugas rumah tangga lain sehingga ibu dapat lebih fokus kepada bayinya.

Ayah juga dapat bersama-sama dengan ibu berada dalam tempat dan waktu yang sama ketika sang ibu bercengkerama dengan anak. 
Ibu sedang menyusui, ayah membantu memijiti ibu atau ikut mengelus kepala sang anak dkk.

Pertanyaan 2

Hapsoh
Mba mau nanya
Bagaimana kalau anak sudah besar bahkan dewasa tidak mau untuk menikah contohnya ada dua tetangga saya laki-laki yang tidak mau menikah yang satu sudah 40 tahun lebih katanya awalnya ibunya terlalu pemilih ke menantu jadilah anaknya sampai sekarang tidak menikah bahkan tidak ingin menikah sepertinya jadi tinggal bersama dengan ibunya nah yang satu lagi 30 tahun lebih anaknya terlalu pendiam dan pemalu, peran ayah hampir tidak ada dan ibunya depresi berat seperti orang gila sekarang tinggal dengan neneknya. Nah apakah orang seperti itu bisa dikembalikan ke fitrahnya? Karena kasihan juga mereka pasti tidak ada penerus dan orang yang membantu mereka saat masa tuanya.

Tanggapan 1

izin menanggapi ya mbak 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Perlu dicari tahu terlebih dahulu apa alasannya tidak ingin menikah. tidak berani berkomitmenkah? tidak mampu menafkahi? atau orientasi seksualnya berubah (gay). Tentunya perlu diluruskan berdasarkan alasannya tidak ingin menikah tersebut. Tapi kalau dari cerita mbak hapshoh mengenai ibu yang terlalu memilih calon menantu, asumsi saya sepertinya ibu tidak memberikan ruang pada anak untuk membuat keputusan2 penting dalam hidupnya. mungkin ini juga bisa menjadi pencetus anak menjadi sulit untuk berkomitmen siap berumah tangga.

Tanggapan 2

Saya menambahi sedikit..
Mungkin dari orang tua si anak juga ada inner child yg belum selesai, sehingga mempengaruhi pengasuhannya kepada anak, yg selanjutnya akan terus dilanjutkan oleh generasi-generasi selanjutnya --> pentingnya kehadiran utuh kedua orang tua dalam masa pertumbuhan dan perkembangan.

Tanggapan 3

Banyak faktor penyebab yang seharusnya bisa diurai satu persatu.
Alasan orang sepertinya tidak mau menikah diantaranya
1. Ada trauma tentang pernikahan figur
2. Ada trauma tentang proses menuju pernikahan (pribadi) masuk didalamnya kasus dalam pacaran
3. Ada kegalauan karena tuntutan, termasuk belum merasa siap
4. Ada ketidakberesan masalah seksual
5. Ada faktor lingkungan, seperti sungkan melangkahi
6. Karena memang jodoh belum ketemu.

Dan perkasus berbeda, tidak bisa dijeneralisasi penyelesaiannya

Tanggapan 4

1. Ada trauma tentang pernikahan figur.
Meliputi didalamnya inner child. Disini harus ada proses penerimaan, memaafkan, kemudian lanjutkan
2. Trauma proses disini lebih ke pribadi, seperti mungkin pernah ditolak atau diabaikan (pengalaman pribadi🤭) harus ikhlas dan bisa melanjutkan hidup. Trauma yang disebabkan karena orang tua, lakukan komunikasi, saling terbuka
3. Kalau karena merasa belum siap, peran orang orang terdekat mensuport secara emosional
4. Nah, kalau yang keempat ini penyebab yang terstruktur dari pola pengasuhan
5. Biasanya karena adat
6. Banyak berserah diri, setelah berusaha tentunya

Tambahan Pertanyaan dan Tanggapan 

Jadi harusnya kalau kita mampu mengurai akar penyebabnya bisa dikembalikan ke fitrah untuk menikah ya mba?
Sayang mereka laki-laki jadi saya juga tidak bisa melakukan pendekatan pribadi padahal salah satunya agak saudara dengan saya

Iyap setuju.. diharapkan ketika akar permasalahan ditemukan maka bisa disembuhkan dan "luka" pengasuhan itu tidak perlu diturunkan dari generasi ke generasi.

Mungkin bisa pake alternatif yg PDKT ngobrol sesama lelaki mb, jadi lebih leluasa ngobrolnya, pake bahasa lelaki.

Nah yang agak khawatir adik perempuan yang kakaknya usia 40 lebih itu sekarang juga sama belum menikah padahal sudah sangat cukup usia dan mandiri finansial saya dengar juga orang tuanya selalu memiliki celah menolak karena kurang sesuai kriteria ibunya pada calon-calon yang datang

Mungkin memang ibunya baiknya lebih semeleh ya karena anaknya sudah usia 30-40thn belum menikah. Jika memang mereka belum mau menikah, ada baiknya tinggal terpisah dari ibu dan bapaknya. Tapi bukan berarti lalu jarang mengunjungi loh ya. 
Karena jika mereka hidup mandiri dan terpisah mungkin akan lebih terasa membutuhkan pendampjng hidup.

Mau curcol sedikit..
Saudara ada yg sedikit trauma dg orangtua, penghasilan ibu lebih banyak drpd bapak, jd ibu yg mengambil banyak peran dan keputusan..
Jadi lebih memilih2 pasangan dan harus mapan scr finasial baru mau nikah..
Terkadang terlalu terbuka dg anak trkait finansial bisa mjd boomerang jg..

Mungkin sebelum menikah pasangan pun harus memahami "bahwa rejeki itu pasti kemuliaan yg harus dicari"
Sejaya²nya istri itu tidak akan mengungguli rejeki suami, 
Tapi gaji lebih banyak istri? Mungkin itu krn doa suami yg tersembunyi 
Anak² akan lebih soleh/Solehah, sehat, nurut, jika makan dr rejeki suami.
Uang istri buat istri saja.
Muliakan suami, syukuri jeripayahnya.

resume Kuliah kelas sebelah🤭

Pada akhirnya kita juga akan menjadi tua, anak2 hrs dibebaskan lepas. Entah sudah atau belum berkeluarga baiknya lepas dari ortunya ketika sudah dewasa baik secara financial maupun secara fisik (tinggal terpisah).
Namun komunikasi tetap terjalin manis. Telpon bisa tiap hari. Berkunjung bisa setiap akhir pekan.
Pengingat buat kita semua juga yg nanti akan menjadi tua dan hrs legowo melepaskan anak.

Rejeki bisa lewat istri juga kan sdh berkeluarga gak mesti lewat pintu suami. Yg ptg tetap tau diri itu kdg yg sulit atau keprucut sbg seorang istri merasa lebih walau tidak disengaja di depan anak dan suami.
Insya allah rejeki sudah dijamin memang mau satu orang atau dua orang yang bekerja

Pertanyaan no 3

Prastika
Kebetulan adik saya yang laki-laki punya kebutuhan khusus. Hari ini dia genap 20 tahun. Saya tahu sekali perjuangan kedua orang tua saya dalam menangani kebutuhan adik saya yang ADHD. dulu kan booming-nya autis ya,, jadi saat dia umur 2 tahun belum bisa ngomong banyak yang berkomentar jangan-jangan dia autis...

Tapi dia ternyata tidak autis. datang ke psikologi dan terapi sudah berkali-kali, sudah dites dan ternyata hasilnya adalah ADHD. Selama saya menjadi anak bapak ibu, ibu saya yang dominan untuk mengungkapkan pendapat dan mencari informasi memang ibu saya. sehingga memang sedari kecil adik saya itu full dipegang oleh ibu saya dan saya rasa pendampingan dari bapak saya itu kurang. Penjelasan fitrah seksual secara umum misalkan seperti perbedaan jenis kelamin atau penjelasan tentang mimpi basah dan lain-lain ibu saya yang lebih sering menjelaskan daripada bapak saya.

Sehingga kalau saya lihat bapak saya hanya fokus menjelaskan bahwa tugas laki-laki itu mencari nafkah jadi harus sekolah yang rajin supaya bisa cari duit yang banyak biar anak istrinya besok nggak kapiran.
yang saya khawatirkan kalau misal bapak ibu saya sudah tidak ada, apakah bisa adik saya nantinya bertumbuh sebagai pria dewasa pada umumnya yang bisa membuat2 keputusan sendiri? 
karena selama ini segala keputusan diambil oleh ibu, kalau adik saya yang membuat keputusan, masih terkesan tidak ada pertimbangan yang matang karena melihat kekurangan yang dia punya.

Jawaban

Kalau masalah masa depan kita serahkan kepada Allah mbak....
Saya mau menanggapi pendampingan anak berkebutuhan khusus ADHD.
Anak anak berkebutuhan khusus adalah anak istimewa, memang pada umumnya ketika dikaruniai anak dengan kebutuhan khusus relatif akan lebih dekat dengan ibunya. Namun, jangan sampai peran ayah terlewatkan.

Untuk anak ADHD, kita bisa melatih konsentrasinya. Karena bermain bagi anak itu sama dengan urusan bagi orang dewasa, maka kita bisa melatih kemampuan konsentrasinya dengan bantuan permainan.
Misalnya spinner, mainan ini bisa digunakan untuk membantu berkonsentrasi.

Tambahan Pertanyaan dan Tanggapan 

Ada pedomannya gak mbk hrs brp menit main spinner dan apakah ada trik khusus utk fokusnya biar bgs? Krn yang membuat adik kurang logis dlm berpikir adlh dia lbh srg pake emosinya dprd logikanya. Kalo kita ajarkan norma2 yang umum ada di masyarakat saja, btuh waktu lama utk membuatnya paham dan itupun terasa tdk memuaskan baginya

Awal mula keluar mainan spinner, saya tidak suka. Karena menurut saya mainan itu justru membuat anak anteng.
Sedangkan anak anak saya masih harus dioptimalkan kemampuan motoriknya. Jadi saya tidak memberikan mainan spinner pada anak - anak saya.
Setelah saya cari tahu, ternyata memang sejalan dengan fikiran saya mbak. Kalau spinner dibuat untuk membantu anak ADHD berkonsentrasi.

Nah iya mbak...aku jg kebetulan join grup FB utk yang khusus ADHD. tes logam kayane dah dl bgt zamannya dia kecil mau terapi psikolog. Skrg blm prnh tes lg. Tes alergi jg blm tau. 
Rasane nanti kalo pas dah resign dan full dirumah, pgn fokus cari info terkait hal ini.

Pertanyaan 4

Diya Marwa
Ijin bertanya
Di materi anak usia 7-10 sebaiknya didekatkan pada ayah untuk anak laki-laki dan pada ibu untuk anak perempuan.
Dan di usia 10-14 tahun sebaliknya.
Bagaimana jika pada fase 7-10 anak laki-laki lebih dekat dengan ibunya. Sedangkan skr sudah masuk fase 10-14? 
Jika prosesnya diulang, anak laki-laki didekatkan ke ayah, bagaimana dengan fase 10-14 nya dimana anak mestinya didekatkan ke ibu nya?

Jawaban

Usia 7-10 anak memasuki pubertas. Disini akan lebih mengena penjelasan tentang pubertas sesuai jenis kelamin. Sehingga pada fase ini menjawab kegalauan anak dan menghindarkan dari ketidak pd an.
Contoh, kok payudaraku ada 'batunya'/pringkilen kalau orang jawa.
Ketika ibu yang menjelaskan ada contoh nyata. Jadi anak tidak mengira ngira.
Pun sebaliknya untuk anak laki laki
Di usia 10-14 tahun justru kebalikannya, ini dimaksudkan untuk memberi bekal kehidupan buat anak - anak kita. Menanamkan figur orang tua yang baik. Agar anak-anak kita tidak salah memilih pasangan hidup
Jika fase 7-10 terlewat, dan sekarang sudah masuk fase 10-14.
Sebaiknya tetap seperti fase 10-14, tetapi tidak ada kata terlambat untuk mengulang.
Jadi di fase 10-14 dekat sama keduanya its ok.

Menambahi jawaban mbk Fahma. 
Di usia 10-14 tahun sudah mulai timbul rasa ketertarikan kepada lawan jenis, diharapkan di masa balighnya ia bisa belajar memahami empati perasaan seorang wanita dari sosok yg terdekat, yaitu ibunya bagi anak lelaki. Ia belajar bagaimana lawan jenis diperlakukan, dipahami dan diperhatikan dari sisi kacamata wanita bukan lelaki. Begitu pula dengan anak perempuan yg didekatkan dengan ayahnya.

Pepatah mengatakan "Jika anak wanita kita dekat dengan ayahnya, maka dia tidak akan salah pilih pasangan. Karena standart minimalnya yang seperti ayah"
"Ayah adalah cinta pertama putri kecilnya"🤭
Emak dilarang cemburu ya....

Yang Saya Petik dan Pelajari 

Menumbuhkan fitrah seksualitas pada anak, banyak tergantung pada kehadiran Ayah dan Ibu. Karena sosok ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak- anak sampai aqil baligh. Pendidikan fitrah seksualitas di mulai sejak bayi lahir agar fitrahnya tumbuh secara paripurna.

Berdasarkan riset membuktikan, anak yang tercerabut dari orang tuanya sejak dini baik karena bencana, perang, perceraian, boarding school, dan lainnya akan mengalami, antara lain :
  • Gangguan kejiwaan
  • Perasaan terasing (axienty)
  • Perasaan kehilangan kelekatan / attachment
  • Depresi
  • Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dan sebagainya.

Usia 0 – 2 Tahun
Anak lelaki dan perempuan harus didekatkan dengan pada ibunya karena adanya proses menyusui.
Usia 3 – 6 Tahun
Anak lelaki dan perempuan didekatkan dengan kedua Ayah dan Ibunya, agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional, serta anak harus sudah memastikan identitas seksualitasnya di usia 3 tahun.
Usia 7 – 10 Tahun
Anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena diusia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggung jawab moral, kemudian disaat yang sama ada perintah SHOLAT.
Usia 10-14 Tahun 
Ini adalah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan. Tahap ini peran reproduksi telah dimunculkan oleh Allah, secara alamiah anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi.
Ummi Maryama
Teman mainnya Maryam dan Hisham | Islamic Parenting - Home Education - Healthy Lifestyle Enthusiast | Partner belajar sekaligus pembelajar Al Qur'an

Related Posts

Post a Comment