headerummary

Birth Story VBAC of Hisham

1 comment


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

MENGAPA VBAC

Maryama, anak sulung saya, kian hari tumbuh semakin besar dan pintar. Masih teringat jelas proses yang saya lalui untuk melahirkannya 3 tahun lalu. Saat mengandung Maryama di hari-hari mendekati kelahirannya, di tengah malam ketika tengah tertidur pulas, saya terbangun mendengar suara "pyok!" dan diikuti rembesan air hangat mengalir di sekujur pantat dan paha. Seketika saya melompat dari kasur kemudian berlutut di lantai, saya menyadari bahwa selaput ketuban saya pecah. Sembari mengatur nafas berusaha tetap tenang, saya perlahan membangunkan suami untuk bersiap mengantar ke Rumah Sakit. 

Singkat cerita, 17 jam paska ketuban pecah dini, pembukaan saya mandeg di bukaan 2. Selama waktu menunggu saya yang fakir ilmu saat itu hanya diperbolehkan berbaring di kasur, tidak tau harus berbuat apa. Sesekali para bidan dan perawat memeriksa tekanan darah, denyut jantung janin, dan melakukan pemeriksaan dalam yang sesungguhnya terasa tidak mengenakkan. Keadaan ruang bersalin pun jauh dari kata nyaman, ini menambah tingkat stres saya kala itu. Di penghujung waktu saya mulai merasakan nyeri kontraksi datang sesekali. Para bidan yang mungkin lelah menunggu pembukaan tak jua bertambah, mulai menawarkan intervensi medis, yakni pemberian hormon induksi sebagai perangsang agar kontraksi semakin intens. 

Dalam kondisi ini saya mulai panik, sebab takut tidak kuat menahan nyeri induksi dan khawatir jika bayi di dalam perut ikut mengalami stress. Suami yang mendampingi sedari dini hari juga sudah tampak kelelahan. Akhirnya karena saat itu merasa minim ilmu, tertekan dan tidak percaya diri, saya putuskan untuk langsung dilakukan operasi caesar saja. Selama operasi dan paska operasi saya merasa tidak hanya raga saya yang lelah dan nyeri, tapi batin juga terasa sangat letih, sebab saya harus dipisahkan dari bayi saya dan baru bisa bertemu dengannya setelah hampir 24 jam. Sepanjang waktu saya terus meratapi diri, merasa melakukan persiapan untuk persalinan normal mengapa akhirnya berujung caesar. Saya bertekad akan berusaha melahirkan secara normal pada persalinan selanjutnya, serta mengupayakan prosesnya lebih minim intervensi medis dan trauma.

Tiga tahun telah berlalu, alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengirimkan amanah kembali di dalam rahim saya. Saya tahu saya masih menyimpan luka batin dan penyesalan di persalinan pertama, dan saya tidak ingin hal itu terulang. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membentuk janin dalam tubuh ini, pastinya menciptakan pula jalan lahir untuknya. Saya mulai mempersiapkan diri dengan mencari informasi lebih banyak mengenai persalinan normal setelah sebelumnya operasi caesar, yang lebih dikenal dengan istilah VBAC (Vaginal Birth After Caesarian). 


SEMBUHKAN TRAUMA

Dari hasil mengumpulkan data saya mengetahui, baik persalinan normal maupun caesar berulang sama-sama memiliki resiko, tinggal bagaimana saya menguatkan keyakinan dan berupaya agar resiko-resiko tersebut dapat di cegah. Hal pertama yang saya lakukan adalah mencari terapis untuk membantu menyembuhkan trauma akan persalinan pertama dulu. Saya teramat takut bila harus mengalami kejadian serupa 3 tahun lalu, dimana terlalu banyak intervensi dan minim pengetahuan, ditambah keyakinan saya yang lemah dan tidak percaya diri. Saya tidak ingin menyesalinya lagi, dan menganggap semua yang telah terjadi atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terapis saya mengatakan, "Tidak perlu ada yang ditakuti, sebab takut datangnya dari syaitan, kuatkan keyakinanmu terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan hadapi trauma itu sampai kamu terbiasa ketika mengingatnya". 

Beliau menyarankan untuk semakin mendekatkan diri kepadaNya, perbanyak dengar kajian, mengemis dan berdoa di sepertiga malam untuk semakin meyakinkan diri akan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau juga menyampaikan untuk menerima seluruh masa lalu saya, terutama masa lalu yang berkaitan dengan peran orang tua dalam pengasuhan. Karena bila ada bagian masa kecil kita yang tidak tuntas, bisa saja itu menjadi penyebab munculnya perasaan sedih, kalut, tertekan yang mendadak datang dan berlanjut, atau kekhawatiran berlebih di masa kini bahkan di masa depan jika tak disembuhkan.

Saya pun mulai membersihkan hati dan pikiran saya dari bayang-bayang masa lampau dengan berusaha memaafkan dan menerima ikhlas, karena saya tak ingin bayi dalam perut ikut merasakan ketidaknyamanan. Sebelum melakukan ikhtiar persiapan VBAC, saya bertawakal pada Allah Subhanahu wa Ta'ala, agar Ia selalu membimbing dan menemani di setiap langkah. Saya berusaha ikhlas serta mempasrahkan diri, bagaimana pun akhirnya nanti, semoga Allah pilihkan kami jalan yang terbaik.

MEMULAI UPAYA VBAC

MENCARI PROVIDER DAN SUPPORT SYSTEM

VBAC merupakan kasus khusus dalam bidang kebidanan, sebab termasuk sebuah proses persalinan yang beresiko. Semua tenaga kesehatan umumnya akan menyarankan untuk bersalin di Rumah Sakit, dibawah penanganan langsung dokter spesialis kandungan. Pada kenyataannya, tidak semua dokter kandungan mendukung VBAC. Adakalanya mereka akan menolak seorang ibu yang menginginkan bersalin normal setelah sebelumnya caesar dengan beberapa alasan, seperti jarak kehamilan yang terlalu dekat, melihat postur ibu dan atau janin, atau mempertimbangkan riwayat SC sebelumnya.

Alhamdulillah, setelah bertanya kesana kemari, kami menemukan seorang dokter pro VBAC di Purwokerto. Tanpa ragu kami segera mencari info, serta melakukan pemeriksaan kehamilan dan konsultasi rutin setiap bulan dengan beliau. Seiring usaha mencari tenaga medis yang sesuai dengan keinginan, saya bergabung dengan komunitas Cerita VBAC di telegram. Para admin di grup ini sangat peduli dan responsif, sebab mereka tak segan berbagi informasi dari beragam artikel kesehatan, pendapat para ahli, dan video-video pendukung. 

Mereka juga menyiapkan dan menyampaikan materi khusus di setiap pekan, yang diperlukan para ibu untuk menghadapi persalinan, terutama kasus VBAC. Hampir seluruh tema sudah di kupas, mulai dari persiapan persalinan, kasus-kasus yang biasa dihadapi ibu hamil, hingga ikhtiar-ikhtiar apa saja yang dapat dilakukan ibu untuk mewujudkan harapan bersalin normal. Para member yang berhasil VBAC juga membagikan birth story mereka di grup ini, sehingga menambah semangat member-member lain yang masih berjuang, termasuk saya.

MENGUMPULKAN INFORMASI DAN MULAI PRAKTEK

Dengan sabar saya membaca puluhan artikel kesehatan, menyimak video, serta merangkum materi yang grup Cerita VBAC bagikan. Karena kata kunci yang selalu para admin ingatkan adalah KNOWLEDGE IS POWER, bahwa ilmu pengetahuan adalah salah satu kunci keberhasilan persalinan lancar. Dalam proses belajar ini saya sempat merasa menyesal mengapa baru sekarang mulai rajin membaca. Disebabkan di kehamilan pertama saya begitu berleha-leha sehingga minim mencari informasi sehingga akhirnya membuat tidak percaya diri. Syukurlah Allah Subhanahu wa Ta'ala masih memberikan kesempatan umur dan hidayah. Kini saya dapat mempelajari dan memahami banyak hal yang dulu saya tak ketahui.

Setelah membaca sebagian besar materi tentang persalinan, saya mulai melakukan ikhtiar di keseharian. Diawali dengan meluruskan dan menguatkan niat, memperbaiki dan menambah ibadah, excercise, mengatur asupan nutrisi, dan tindakan-tindakan yang sekiranya diperlukan sebagai penunjang keberhasilan VBAC. Sejak Masuk trimester kedua saya mulai rutin mengkonsumsi makanan tinggi protein untuk memaksimalkan kesembuhan luka bekas operasi. 

Ditambah berbagai macam suplemen, vitamin dari dokter, air putih berliter-liter, berolahraga teratur, dan latihan pernafasan rutin. Ikhtiar semakin intens saat masuk trimester ketiga hingga mendekati hari perkiraan lahir. Saya selalu meyakinkan diri untuk tawakkal sejak awal, selama dan akhir ikhtiar yang saya jalani. Saya hanya berusaha semampu saya, dan bagaimana hasilnya kelak, saya pasrah dan Ikhlas Allah Subhanahu wa Ta'ala akan tunjukkan takdir terbaik bagi bayi kami lahir ke dunia.


UJIAN DEMI UJIAN

Hari Perkiraan Lahir berdasar hari perkiraan haid terakhir (HPHT) anak saya adalah 3 Agustus 2020. Sejak 3 pekan menjelang HPL, tepatnya usia kandungan 37w, saya mulai gencar melakukan induksi alami untuk memunculkan hormon-hormon yang akan merangsang kontraksi sebagai tanda awal persalinan. Kami pun memastikan kembali keadaan janin dengan kontrol ke dokter kandungan, apakah posisi, berat badan, dan kondisinya sudah cukup ideal untuk lahir. 

Alhamdulillah, semua yang berkaitan dengan janin hasilnya baik. Posisi kepala bayi berada di bawah menghadap kanan, jumlah air ketuban sangat banyak, denyut jantung bagus dan letak plasenta aman. Hari itu saya pun juga diperiksa menggunakan USG transvaginal (probe atau alat scan USG yang dimasukkan ke dalam vagina) guna mengetahui tebal dinding rahim dan pemeriksaan dalam untuk melihat lebar panggul. 

Namun sayang, hasilnya kurang baik menurut dokter. Nilai SBR (Segmen Bawah Rahim atau ketebalan dinding rahim) saya hanya 1,9 mm, yang artinya tidak memenuhi kriteria untuk dilakukan percobaan persalinan normal. Nilai standar SBR adalah 2 hingga 3,5 mm, dokter menilai dinding rahim saya terlalu tipis dan beliau pun tidak berani mengambil resiko. Beliau membuatkan surat rujukan untuk menjadwal tanggal operasi caesar ulang, saya bebas menentukan tanggalnya, namun beliau menyarankan agar dilaksanakan di usia kandungan 38 minggu, yang artinya waktu itu adalah pekan depan.

Seakan tak percaya mendengar kata-kata sang dokter, saya keluar ruang periksa bagai orang linglung. Di perjalanan pulang saya meresapi kembali perkataan beliau, entah mengapa setelah selama ini memberikan dukungan VBAC, namun kini dengan mudahnya memberi rujukan untuk caesar ulang. Saya dan suami sempat kehilangan harapan, karena dari awal kami memang tidak memiliki tempat cadangan pemeriksaan kandungan.

Kami mencoba tetap tenang dan meminta jalan keluar pada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam setiap sujud. Hingga saya teringat seorang teman di luar kota yang pernah bercerita, bahwa ada sebuah klinik bidan disana yang bisa membantu persalinan VBAC dengan pelayanan ramah dan fasilitas nyaman. Saya berdiskusi dengan suami bagaimana kalau kita kesana dan mencoba berbagi cerita, barangkali bidan tersebut punya solusinya.

Selang beberapa hari kami putuskan berangkat ke kota tersebut dan mulai berkonsultasi tentang masalah yang kami alami. Ibu bidan yang kami temui begitu sabar mendengarkan dan memberi saran, beliau menguatkan keyakinan kami untuk terus meningkatkan hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kata beliau, PROSES PERSALINAN ADALAH JALAN SPIRITUAL, dimana setiap ibu berhak melalui proses tersebut dengan cara yang alami. 

Beliau menyarankan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan yang bekerja sama di kliniknya. Kami menurut, karena kami pun penasaran apakah hasil yang keluar serupa atau berbeda. Alhamdulillah, ketika sang dokter memeriksa dinding rahim, ternyata SBR saya masih cukup tebal yakni 4 hingga 5 mm. Saya dan suami tercengang mendengar pemaparan dokter, dan berucap syukur karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengangkat keraguan di hati kami.

Akhirnya kami mantab untuk berkonsultasi dan berencana bersalin dengan tim tenaga medis klinik itu, meskipun jarak yang kami tempuh cukup jauh. Setelah menceritakan hasil pemeriksaan dokter kepada ibu bidan, beliau mengatakan bahwa saya dapat menunggu kontraksi alami datang dengan terus rutin ikhtiar.

Saya kembali bersemangat untuk mulai melakukan jalan cepat atau power walk di pagi hari, senam peregangan, mengkonsumsi buah-buahan tropis : nanas, kiwi, durian, kurma, melakukan hubungan seksual, hingga terapi bekam. Ditambah PR dari bu bidan yaitu posisi rukuk, sujud dan duduk tawarruk selama masing-masing 3 menit diluar waktu shalat. 


Tiga pekan berlalu, namun selama waktu itu tidak ada tanda-tanda ataupun kontraksi yang muncul, hingga HPL (usia kandungan persis 40 minggu) terlewati. Rasa cemas mulai menghinggapi hati kami, ditambah bidan desa, tetangga dan orang tua yang mulai bolak-balik bertanya apakah saya sudah lahiran. Tentu saya tidak bisa menjawab keingintahuan mereka, sebab hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala yang secara pasti mengetahui kapan bayi saya akan lahir.

Akhirnya kami kembali memeriksakan kandungan dengan dokter SPOG yang berbeda di kota kami, dokter yang saya baru tahu belakangan juga mendukung VBAC. Pada pertemuan pertama, beliau mengatakan bahwa keseluruhan hasil USG baik, saya masih boleh menanti hingga 1 pekan ke depan. Apabila selama sepekan adik bayi belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar, kami diminta berkonsultasi kembali.

Sepekan kemudian kami datang lagi, dokter melakukan pemeriksaan yang kini hasilnya tak cukup baik. Jumlah air ketuban masih banyak namun sebagian mulai keruh, dan plasenta mulai mengalami pengapuran. Dokter mengatakan jika saya tetap mencoba bersalin normal, akan ada resiko pneumonia atau radang paru-paru pada bayi akibat menghirup air ketuban yang keruh. Sama seperti dokter kami pertama, beliau menyarankan untuk segera dilakukan operasi caesar ulang, bahkan besok pun bisa. 

Hati saya bergetar menyimak dan mencerna vonis sang dokter yang di luar dugaan. Saat keluar dari ruang periksa saya tak dapat membendung air mata. Diantara perasaan cemas nan galau menunggu adik bayi lahir, kini bertambah lagi panik dan khawatir. Saya sesenggukan di balik cadar di sudut ruang tunggu, tak berani mengeluarkan isakan karena malu. Sembari lisan terus beristighfar, dan meyakinkan diri bahwa saya akan terus berprasangka baik pada Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena Ia sebaik-baiknya penolong dan penunjuk jalan. Suami terus membisikkan jangan sampai stress, bersedih secukupnya saja, karena emosi negatif ini dapat berpengaruh pada kesehatan janin. 

Saya ceritakan hasil pemeriksaan dokter pada ibu bidan, dan beliau meminta saya datang untuk periksa kembali serta akan dilakukan terapi-terapi yang dapat memunculkan kontraksi alami. Dalam 1 bulan, saya mengunjungi klinik beliau sebanyak 5 kali. Jarak yang jauh dan biaya yang tidak sedikit kadang sempat membuat hati kami surut. Namun kami tidak punya pilihan lain, terlebih waktu yang tersisa begitu singkat. 

Kami terus saling menguatkan dan menajamkan doa, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala Ar Razaq adalah Sang Maha Pemberi Rezeki, yang akan mencukupkan kami dengan caraNya. Kami juga kembali memeriksakan diri ke dokter kandungan di klinik bu bidan selang sepekan kontrol dengan dokter di tempat kami. Alhamdulillah, hasilnya berkebalikan dengan dokter yang kami temui sebelumnya. 

Beliau mengatakan bahwa air ketuban saya masih cukup banyak dan jernih, plasenta tampak sehat, pun kondisi janin dalam keadaan baik. Yang sempat menjadi kekhawatiran beliau hanya berat janin yang cukup besar, berat perkiraan sekitar 3,6 kg. Dokter memberi waktu hingga sepekan ke depan, bila tidak kunjung muncul kontraksi, maka kami harus membuat keputusan, apakah akan tetap menunggu atau dilaksanakan operasi caesar.

MENJELANG HARI UJIAN TIBA

Hari ini usia kandungan saya memasuki 41 minggu 2 hari atau lewat 9 hari dari hari perkiraan lahir. Sudah tidak perlu ditanya lagi bagaimana perasaan kami, tiap malam dan di waktu-waktu mustajab lisan dan hati selalu bermunajat agar Allah Subhanahu wa Ta'ala segera memberikan tanda dan mengangkat segala kekhawatiran di hati kami. Kami hanya ingin adik bayi lahir di waktu yang benar-benar sudah Ia tetapkan, bukan dari perkiraan manusia semata. Kami berharap ia keluar melalui jalan yang sudah Allah Subhanahu wa Ta'ala takdirkan, dengan natural dan lembut. 

Saya terus menjalankan ikhtiar induksi alami yang sekiranya akan mendatangkan kontraksi, kali ini lebih sering, lebih lama, dan lebih banyak. Meskipun bermandikan keringat selepas lelah berolahraga, atau berhubungan badan yang tak lagi memikirkan rasa, jus nanas dan kurma yang rasanya di tenggorokan kian hari mirip tape ragi, bismillah, pasrah dan ikhlas akan hasilnya nanti.

Lagi-lagi di tengah perjuangan, muncul suara-suara sumbang berkumandang, "Sudah lahiran? Kapan lahiran? Sudah periksa lagi? Yakin bayinya gapapa? Udah lah caesar aja!" Jika tak kuat mental, mungkin saya akan terus panik termakan ucapan itu. Kebetulan hari ini dan besok suami saya libur kerja, saya berencana mengajak keluarga pergi agak jauh untuk sekedar refreshing melepas jenuh dan kepenatan.

Kami memutuskan untuk bermain di bawah air terjun kecil yang memiliki sungai bersih nan landai di salah satu wisata di Baturraden. Ini kesekian kalinya kami kemari, Maryama menyukai tempat ini dan pasti bersemangat ketika berinteraksi dengan air. Air pegunungan terasa begitu menyegarkan kaki, menggelitik saya untuk bermain ke area yang lebih dekat air terjun. Setelah berganti pakaian, perlahan saya mendekat ke dataran yang lebih dalam, MasyaaAllah dinginnya air terasa semakin menusuk tulang. Saya ingin merendam seluruh kaki dan sekitar perut supaya lebih rileks, wahh rasanya sangat menyenangkan. 

Sembari memandang hijauan di sekeliling, batu-batuan besar berjajar alami, dan menikmati udara bersih nan sejuk, sungguh melegakan. Sepulangnya, dini hari saat sedang tidur, saya merasakan perut mendadak mulas, sekitar 2 atau 3x seperti ingin buang air besar, namun karena terlalu mengantuk saya abaikan.

Esoknya kami menuju tempat rekreasi berbeda, sekalian niat hati sepulang dari arena wisata kami akan menemui ibu bidan untuk kembali berkonsultasi. Kali ini tujuannya adalah wahana bermain anak. Di siang hari ketika cuaca terik dan panas, kami harus berjalan kaki menuju area permainan satu ke area lain. Lumayan terasa nikmat di kaki, mengingat tadi pagi saya sudah berjalan cepat mondar-mandir di depan rumah hampir 1 kilometer. Tak mengapa lah, sambil cuci mata sekaligus menenangkan hati dan pikiran, pikir saya. Sepanjang hari saya tidak merasakan perut mulas seperti yang semalam muncul, hanya sesekali terdapat bercak lendir kemerahan di celana, saya menduga waktu persalinan sudah semakin dekat. 

Setiba di tempat bidan, beliau memeriksa dalam dan melakukan terapi untuk memancing munculnya kontraksi. Benar saja, saat tidur malam saya kembali merasakan mulas beberapa kali, saya menerka ini adalah awal mula gelombang cinta yang kami tunggu-tunggu, saya tersenyum-senyum sampai akhirnya ketiduran lagi. Menjelang pagi, mulas itu hilang, hingga siang mendekati waktu ashar, rasa mulas kembali hadir dan terus berulang. Saya gunakan untuk berjalan cepat mondar-mandir dan bermain gymball selama sekitar satu jam di dalam rumah. 

Ba'da ashar perut terasa semakin kencang saat kontraksi datang. Saya masih beraktivitas seperti biasa sembari menunggu suami pulang. Adzan magrib berkumandang, dan selepas shalat saya mulai menyalakan aplikasi penghitung kontraksi di handphone. Aplikasi menunjukkan bahwa jeda kontraksi sudah muncul semakin sering dan durasinya semakin rapat.

Setelah konsultasi dengan ibu bidan via WhatsApp, beliau menyarankan kami untuk berangkat. Dengan segera, saya, suami, Maryama dan ibu mertua bersiap-siap menuju klinik. Saya berusaha tenang sambil terus mengontrol nafas agar ketika kontraksi terasa di jalan, saya tetap dapat mengendalikan diri. 

Dan tibalah kami di klinik, bidan melakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui pembukaan yang ternyata masih bukaan 3-4. Kami diminta masuk ke dalam ruangan, sembari terus bermain gymball agar rasa kontraksi teralihkan dan bukaan cepat bertambah. Hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam, Saya melihat Maryama belum tidur. Beruntung ada ibu mertua yang mendampinginya, saya berdoa menitipkan ananda pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pukul 12 lewat, kontraksi terasa semakin kuat, bidan datang untuk memeriksa pembukaan lagi. Kali ini di sela rasa yang luar biasa, tangan beliau yang sedang berada di dalam jalan lahir saya, merangsang ketuban pecah. Air ketuban tumpah dan terasa hangat di sekujur paha. Di dalam dada rasanya mulai bergejolak, namun saya berusaha tetap tenang. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, bidan memasangkan infus dan memberi suntikan antibiotik guna mencegah infeksi. 

Saya membayangkan kejadian 3 tahun lalu saat persalinan pertama, karena saat itu saya mengalami ketuban pecah dini dan diberi perlakuan yang sama persis seperti saat ini. Kini saya pun diminta untuk posisi tiduran saja, karena khawatir ketuban akan mengalir terus menerus bila dalam kondisi duduk atau berdiri.

Setelah ketuban pecah, pergerakan saya jadi berkurang, meski pembukaan sudah bertambah ketika terakhir diperiksa menjadi bukaan 5-6. Saya mulai hilang kendali ketika gelombang cinta terasa semakin rapat dan nikmat. Sesekali saya masih bisa mengontrol nafas, melafalkan istighfar dan membaca doa-doa, memeluk dan berpegangan tangan suami, namun selebihnya saya lepas kendali dengan mulai mengaduh, berteriak, dan berusaha melawan rasa nyeri yang datang. 

Para bidan dan suami silih berganti memijat area tulang ekor saya untuk membantu mengalihkan rasa sakit. Saya terus berdoa dan memohon dalam hati agar proses pembukaan berlangsung cepat, dan saya dapat melalui proses ini dengan sabar serta lapang dada. 

Walaupun badan rasanya sudah begitu lemah, saya berkomunikasi mengajak adik bayi untuk saling membantu agar ia segera mencari jalan keluar dan mendorong dari dalam. Bidan yang mendampingi pun tak henti mengingatkan untuk mengalihkan rasa nyeri dengan selalu kontrol nafas dan istighfar. Pun suami yang tidak sejengkal pun saya ijinkan menjauh, selalu memberikan semangat karena kami sudah berusaha hingga sejauh ini. Saya bersyukur masih bisa menahan diri untuk tidak mencakar dan menjambak suami atau mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, baik pada suami ataupun bidan jaga. 

Meski sempat terlintas mengenai persalinan caesar, yang tampak lebih tidak menyakitkan karena prosesnya begitu cepat, saya kembali meyakinkan diri, sebentar lagi proses ini akan berakhir. Sayamenraik kata-kata saya. Saya pun tahu suami saya sudah sangat kelelahan, karena sejak datang kontraksi saya terus menarik-narik leher, lengan, baju, celana dan meremas-remas tangan beliau. Iya, saya bangga padanya, atas kesabaran dan ketelatenan mendampingi saya sedari awal hamil hingga menjelang persalinan anak kami.

Menjelang subuh saya semakin tidak kuat menahan nikmatnya gelombang cinta yang menjalar ke area perut bawah dan sepanjang pinggang. Jedanya tidak sampai 1 menit, dengan durasi sekian puluh detik, namun seluruh otot tubuh rasanya sudah tak kuasa diajak berkompromi. Pemeriksaan dalam dilakukan lagi dan nampaknya sebentar lagi akan bukaan lengkap, karena saya merasa keinginan mengejan sudah mulai muncul, dan bidan pun meminta saya untuk bersabar hingga bukaan 10. 

Mereka membantu saya untuk tetap aktif mengkonsumsi buah kurma serta minum sari kurma sebagai tenaga, sebab saya masih harus berjuang nanti di proses mengejan. Pada jeda istirahat sepersekian detik saya merenung, beginikah rasanya ibu Maryam dahulu melahirkan di padang tandus seorang diri? Tidak ada yang membantunya memijat punggung, mengelus perut, mengusap kepala, bahkan mengambilkan makan dan minum. Atau akan seperti inikah rasanya sakaratul maut nanti? Ketika tubuh sudah tak sanggup lagi menahan nyeri, dan hanya mampu pasrah menunggu mati.

Yaa Allah Subhanahu wa Ta'ala, tubuh ini milikMu, jiwa ini milikMu, anak dalam kandunganku ini milikMu, aku mohon Yaa Allah berikanlah aku kekuatan, semoga rasa nyeri ini segera berganti dengan rasa nyaman, semoga proses ini berjalan dengan lancar sesuai kehendakMu, dan mampukan aku melalui semuanya dengan baik. Temani aku Yaa Allah, karena aku sudah tak sanggup lagi. Aku hanya hamba yang lemah Yaa Allah, aku tidak memiliki kekuatan apa-apa tanpaMu, karena hanya Engkaulah sebaik-baiknya penolong. 
Yaa Allah Yaa Fatah, bukakanlah jalan keluar untuk bayiku keluar dari rahim
Yaa Allah Yaa Hadi, berikanlah petunjuk untuknya dapat melewati jalan lahir yang sudah Kau siapkan
Yaa Allah Yaa Latif, lembutkan otot-otot di jalan lahirku agar bayiku mampu meluncur dengan mudah
Yaa Allah Yaa Ghaffar, ampunilah segala kesalahanku
Yaa Allah Yaa Rahman Yaa Rahim, sayangilah aku dan bayiku
Aku pasrah dan ikhlas dengan segala ketetapanMu Yaa Allah, semoga bayiku dapat terlahir ke dunia dengan selamat.


RESTU IBU

Saya terus meratap dan mengemis di antara rasa yang sudah tak terbendung lagi. Saya harus bertahan, inilah kenikmatan yang tidak semua perempuan dapat rasakan, dan Allah telah janjikan menghapus dosa bagi ibu yang berjuang melahirkan anaknya. Saya pun tidak ingin dirujuk ke Rumah Sakit karena itu akan membutuhkan proses yang lebih lama lagi. 

Waktu sekitar pukul 7 pagi, bidan meminta saya pindah ke ruang tindakan untuk bersiap melalui persalinan. Di atas ranjang yang lebih tinggi, saya sudah diminta untuk mencoba mengejan. Ternyata rasa mengejan yang muncul begitu hebat, seakan ada yang menarik urat kepala hingga jemari kaki merosot ke bawah. Setelah berkali-kali berganti posisi mengejan tak jua usaha saya menunjukkan perubahan. 

Bidan-bidan yang tampak lelah tetap bersabar menemani dan memberikan contoh cara mengejan serta mengatur nafas. Sembari seorang diantaranya meminta saya untuk tetap mengunyah suap demi suap nasi, yang bahkan di mulut rasanya ingin dikeluarkan lagi. Satu jam berlalu dan tubuh ini terasa semakin kaku, rasanya sudah tidak ada lagi tenaga tersisa. 

Saya merasa ada yang mengganjal disini, saya pikir proses mengejan ini seperti terhalang oleh sesuatu. Dalam hati saya merenung sesaat, saya memang belum memberitahu ibu kandung saya bahwa sebentar lagi saya akan melahirkan. Saya sengaja berusaha menghindarinya karena saya takut kekhawatiran beliau menyurutkan niat saya melahirkan normal. 

Saya sadar, mungkin karena menyimpan emosi negatif ini yang menyebabkan pengejanan terhambat. Kemudian saya meminta suami untuk menghubungi ibu kandung yang berada di luar kota. Saya mengadu pada ibu bahwa saya sudah berada di pembukaan lengkap, dan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang pernah saya perbuat terhadap beliau. 

Saya menangis dan memohon doa beliau demi kelancaran persalinan, karena saya belum menemukan posisi mengejan yang tepat untuk mengeluarkan adik bayi. Saya benar-benar ketakutan bagaimana jika proses mengejan ini tak mengalami kemajuan. Ibu bidan senior tampak resah berkali-kali memperhatikan jam dinding, mengingatkan bila proses pengeluaran bayi terlalu lama maka kami akan dirujuk ke Rumah Sakit. Namun saya tidak menangkap ucapannya saat itu, sebab hanya fokus mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang saya sudah tak tahu lagi bagaimana caranya. 

Setelah menutup telpon saya mulai mencoba mengejan kembali dan meminta bantuan seluruh bidan dan suami untuk terus memberikan semangat, alhamdulillah seketika itu juga ada kemajuan. Berkat restu ibu yang luar biasa, akhirnya tampak titik terang di raut wajah para bidan, saya turut bergembira sembari tetap berusaha mengatur keluar masuknya udara. Dalam tiga kali siklus mengejan datang, saya mencoba mengeluarkan sehemat mungkin nafas agar tetap panjang dan berkesinambungan. 

Bidan mengatakan bahwa kepala bayi sudah semakin turun dan rambutnya kini terlihat. Sebentar lagi bayi akan lahir, saya harus mengumpulkan nafas dan energi agar dapat mengejan lebih kuat lagi. Dan di kesempatan terakhir, saya mengejan sekuat tenaga, mengeluarkan seluruh kekuatan dan menghembuskan udara dengan erangan panjang, seketika adik bayi gembul berkulit putih berselimut lendir meluncur keluar dengan cepat. MasyaaAllah..

Diantara sadar tak sadar saya kembali bersandar pada dipan dan mencoba mengatur nafas, saya memutar cepat memori memikirkan apa yang baru saja terjadi. Yaa Allah Engkau telah menolongku, akhirnya anakku lahir dengan selamat karena kuasaMu, alhamdulillah.. alhamdulillah.. 
Suami saya yang antusias memperhatikan proses bayi keluar, tampak berkaca-kaca, dan berkata bahwa anak kami telah terlahir. Saya tersenyum, rasanya masih tidak percaya, inilah titik perjuangan yang selama ini kami nanti-nantikan, semua hanya karena Allah yang telah mengijabah doa-doa yang kami panjatkan. Ibu bidan meletakkan bayi diatas dada saya, saya memperhatikannya dengan penuh haru dan takjub. 

Saya hanya bisa memeluknya sebentar, dan terpaksa melewati sesi inisiasi menyusui dini sebab kondisi badan yang terlalu lelah. Sang bidan pun memberi kesempatan suami untuk memotong tali pusat, dan bayi kembali diangkat untuk dibersihkan, diukur dan ditimbang. 

Semua orang di dalam ruangan terlihat sibuk, membersihkan darah, mengambil peralatan, dan mengurus bayi, sementara pikiran saya masih kalut entah kemana. Mungkin karena terlalu lelah, sebab suami sempat bercerita betapa pucat wajah saya kala heboh mengejan tadi. Ditambah ibu bidan yang harus merogoh rahim saya untuk membersihkan sisa-sisa plasenta dan darah, rasanya membuat ingin mengamuk dan meronta. 

Kini tenaga sudah habis, tapi saya harus mempersiapkan diri kembali untuk dilakukan penjahitan pada perineum yang digunting tadi. Walaupun sudah dibius, ketika jarum menusuk kulit subhanAllah saya masih dapat merasakan dan tak sadar menjerit karena terlampau ngilu. Bayi yang sudah bersih sengaja diletakkan di samping saya untuk membantu mengalihkan perhatian, ditemani suami yang masih siaga mendampingi. Namun karena tidak bisa mengendalikan diri, saya sama sekali tidak menghiraukannya. 

Yaa Allah saya ingin segera menyudahi semua rasa ini, ingin seketika mengalihkan tangan-tangan yang menyentuh tubuh saya. Alhamdulillah sekitar 15 menit proses menjahit selesai, rasanya sangat melegakan ketika saya diperbolehkan kembali ke ruangan. Bertemu anak sulung yang bersemangat melihat adiknya, serta ibu mertua yang memeluk dan terharu karena sejak malam tidak tahan mendengar menantunya meraung-raung. Akhirnya saya bisa puas menatap bayi saya yang begitu putih nan bersih sedang tertidur pulas. Kini yang ada hanya rasa bahagia dan penuh syukur tak terkira.

Esok hari setelah menyelesaikan administrasi, pemeriksaan kesehatan akhir dan visit dokter kandungan, kami diperbolehkan pulang. Syukurlah, proses persalinan normal yang kami harapkan Allah Subhanahu wa Ta'ala ijabah. Meskipun proses yang dilalui tidak mudah dan tidak selembut yang dibayangkan, serta dari segi biaya terbilang diatas standar, kami tetap sangat bersyukur bahwa saya dan anak saya sehat selamat tak kurang suatu apapun. 

Kami yakin pada Allah Al Ghani yang Maha Kaya yang mencukupi kami. Muhammad Abdullah Hisham, nama yang kami sematkan pada putra kedua kami, bermakna hamba Allah yang memiliki sifat terpuji dan murah hati. Terlahir pada tanggal 25 Agustus 2020, dengan berat badan 3,8 kg dan panjang badan 50 cm, ukuran serupa dengan kakaknya dahulu.


MEMETIK HIKMAH


Vaginal Birth After Caesarian benar-benar telah mengajarkan saya banyak sekali hal. Mulai dari kesabaran, keyakinan, keikhlasan, keberanian, kesadaran, kepercayaan, tawakkal, hingga memaksimalkan potensi diri. Jika dibayangkan kembali, rasanya saya tidak percaya dapat melalui semua ini. Melampaui batas diri, mengalahkan rasa takut, percaya pada diri sendiri, pasangan dan tim medis yang menolong, yakin akan pertolongan Allah, bahkan menerima semua kenikmatan sebuah persalinan normal. 

Sungguh semua ini terjadi atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena kuasaNya semata lah Ia mengizinkan dan menyelamatkan kami dari proses bersalin yang begitu panjang. Inilah kisah kami, kisah dimana saya dan suami dilahirkan menjadi orang tua kembali, sang sulung yang telah menjadi kakak, serta si bayi yang menjadi manusia mandiri seutuhnya. 

Saya sangat bersyukur Allah menunjukkan jalan yang luar biasa dalam persalinan kami kali ini. Tanpa seizinNya barangkali kami akan langsung mengiyakan saran dokter di awal untuk caesar ulang, atau pasrah pada nasib tanpa ikhtiar dan doa yang semata-mata ditujukan untuk menggapai ridhoNya.

Tanpa petunjuk Allah, kami pun tak akan menemukan tempat bersalin yang begitu nyaman dengan pelayanan ramah dan memuaskan. Bahkan semua bidan yang terlibat dalam persalinan sungguh sabar dan telaten membantu memenuhi kebutuhan kami sejak sebelum, selama proses, hingga paska bersalin. Segala puji hanya milik Allah semata, betapa saya merasakan kasih sayangNya yang begitu besar.

Terima kasih banyak bagi yang sudah meluangkan waktu untuk menyimak. Tidak ada niat apapun dalam diri dan hati kami untuk riya', hanya besar harapan kami apa yang sudah kami lalui dapat diambil hikmahnya, serta bermanfaat bagi siapapun yang membaca. Barangkali kisah kami tak sebanding dengan kisah orang tua lain di luar sana, yang mungkin memiliki perjuangan lebih berat hingga menggelontorkan tenaga, pikiran, biaya serta mengiris batin. 
Sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat Al Baqarah ayat 287 : Laa yukallifullahu nafsan illaa wus'aha, Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. 
Berikut kumpulan resume yang saya buat selama belajar untuk mempersiapkan VBAC. Karena ini hanya rangkuman, silahkan mencari dan membaca juga sumber-sumber yang lebih valid untuk dijadikan rujukan pembelajaran. Semoga resume saya bermanfaat dan mohon tidak disalahgunakan atau diklaim sebagai tulisan pribadi.
  • DOWNLOAD KUMPULAN RESUME BAHAN PERSIAPAN VBAC ➡️ KLIK DISINI
  • IKHTIAR YANG DILAKUKAN UNTUK PERSIAPAN VBAC ➡️ BACA DISINI
  • BIRTH STORY PERSALINAN PERTAMA ➡️ BACA DISINI
Ummi Maryama
Teman mainnya Maryam dan Hisham | Islamic Parenting - Home Education - Healthy Lifestyle Enthusiast | Partner belajar sekaligus pembelajar Al Qur'an

Related Posts

1 comment

  1. MasyaAllah perjuangan sekali ya mbak buat VBAC. Apalagi banyak dokter yang nggak pro VBAC. Baca tentang ketuban rembes, aku juga dulu ketuban rembes dan nggak ada pembukaan sama sekali. Akhirnya nekat induksi, Alhamdulillah cepet pembukaannya tapi MasyaAllah kontraksinya udah bikin kejang-kejang aja rasanya

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email