headerummary

Hari Ayah Nasional dalam Pandangan Islam

14 comments

Hari Ayah Nasional dalam pandangan Islam


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Hari Ayah Nasional dalam pandangan Islam tentu berbeda dengan sudut pandang masyarakat awam. Hari Ayah di Indonesia diperingati pada tanggal 12 November setiap tahunnya. Ditujukan untuk memuliakan secara khusus peran seorang ayah sebagai kepala rumah tangga, dan tanggung jawabnya dalam menafkahi keluarga. 

Ayah adalah sosok laki-laki yang Allah ciptakan untuk menjadi tulang punggung bagi anak dan sang istri. Di hari khusus ini, diharapkan anak-anak mengingat jasa para ayah, dengan memberikan penghargaan dan ungkapan terima kasih pada ayah mereka. Namun, apakah perbuatan demikian sesuai dengan ajaran agama Islam? Mari kita simak bersama uraian di bawah ini.


Sejarah Hari Ayah Nasional


Berbeda dengan Hari Ayah Nasional, peringatan Hari Ayah global dirayakan di waktu yang berbeda di setiap negara. Hari Ayah digaungkan pertama kali oleh Sonora Smart Dodd pada tanggal 19 Juni 1910 di Washington, Amerika Serikat, guna mengenang sang ayah dan untuk melengkapi Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember. Beberapa negara yang merayakan Hari Ayah, diantaranya:

  • Rusia merayakan pada 23 Februari
  • Italia, Portugal, Spanyol pada 23 Maret
  • Swiss pada hari pertama kedua bulan Juni
  • Austria dan Belgia pada hari kedua bulan Juni
  • Jerman pada 30 Mei
  • Libanon, Mesir, Yordania, dan Suriah pada hari pertama musim panas
  • Negara-negara Skandinavia pada Sabtu kedua bulan November

Di Indonesia sendiri, Hari Ayah dikumandangkan pada 12 November 2006 di kota Solo, oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP). Dimana saat itu PPIP sedang menggelar Sayembara Menulis Surat untuk ibu untuk dibukukan. Seusai acara, para peserta menanyakan kapan ada Hari Ayah, maka mereka menanti untuk mengikuti Sayembara menulis surat untuk ayah di event selanjutnya. Pertanyaan ini memicu penyelenggara mencari tahu kapan Hari Ayah, dan akhirnya mendeklarasikan 12 November sebagai Hari Ayah Nasional.


Wujud Bakti pada Orang Tua dalam Islam


Islam menempatkan kedudukan orang tua begitu tinggi, dengan mewajibkan siapa saja berbakti pada ayah ibu mereka setelah menyembah Allah. Tertuang dalam berbagai ayat dalam Al Qur'an, antara lain QS. Al Isra:23, QS. An Nisa:36, QS. Al An'am:151, QS Luqman:13-14, dan QS. Al Ahqaf:15. Berikut akan dibahas faedah berbakti pada orang tua, bagaimana adab dan akhlak pada orang tua, serta berbakti saat orang tua yang sudah tiada.


Berbuat baik kepada orang tua


Faedah Berbakti pada Orang Tua


Daripada hanya merayakannya di satu hari, alangkah lebih bermakna bila kita memperlakukan orang tua dengan baik setiap saat, tak terpaut waktu, sesuai perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Berikut beberapa faedah berbakti kepada orang tua yang akan kita peroleh, antara lain ialah mendapatkan ridha Allah, merupakan amalan yang paling dicintai Allah, dan terbukanya pintu surga.

  • Mendapatkan Ridha Allah


Untuk memperoleh ridha orang tua maka kita harus hormat dan patuh pada keduanya. Berupaya berperilaku lembut, tidak mengeluarkan suara keras atau tinggi, tidak menyakiti lagi membenci, dan menaati segala perintah. Tentu dengan pengecualian, kita dilarang menaati mereka jika mereka meminta kita berbuat kemaksiatan atau kekufuran. Sebab melalui ridho orang tua lah, ridha Allah akan turun, Dari Abdullah bin ’Umar, ia berkata,

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” 

(Adabul Mufrod no. 2)

  • Amalan yang Dicintai Allah


Berbakti kepada orang tua adalah salah satu amalan yang paling Allah cintai. Seperti tertulis dalam hadist dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, yang berbunyi

Beliau mengatakan, “Aku bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.’ Lalu aku mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Berjihad di jalan Allah’.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Disebutkan dalam hadist tersebut bahwa berbakti pada orang tua merupakan amalan yang paling dicintai Allah. Posisinya disebutkan berada setelah amalan shalat pada waktunya, dan sebelum berjihad di jalan Allah. Maka alangkah besar kemuliaan di sisi Allah bagi hamba-Nya yang menghormati lagi berbakti pada kedua ibu bapak. 

  • Terbukanya Pintu Surga


Suatu ketika Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bertanya kepada seseorang, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk ke dalam surga?” Orang itu menjawab, “Ya.” Ibnu Umar berkata, “Berbaktilah kepada ibumu. Demi Allah, jika engkau melembutkan kata-kata untuknya, memberinya makan, niscaya engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Bukhari)

Benar adanya jika dikatakan berbakti pada orang tua adalah usaha membuka pintu surga yang paling rendah. Tercantum dalam hadist di atas, bahwa bila kita berbakti pada mereka dengan sepenuh hati, maka kita dapat memasuki surga, selama menjauhi dosa-dosa besar, semisal syirik, dusta atau bermaksiat.


Menjaga Adab dan Akhlak


Menjaga Adab dan akhlak pada orang tua


Berikut ini 20 adab dan akhlak mulia, yang dikutip dari muslim.or.id yang wajib diamalkan kepada orang tua

  1. Berkata sopan, lemah lembut, tidak menyakiti hati mereka
  2. Bersikap tawadhu' dan memperlakukan mereka dengan kasih sayang
  3. Tidak memandang dengan tatapan tajam, bermuka masam lagi tidak menyenangkan
  4. Tidak meninggikan suara
  5. Tidak mendahului dalam berkata
  6. Mengutamakan orang tua dalam hal duniawi
  7. Dakwahi mereka dengan agama yang benar
  8. Menjaga kehormatan mereka
  9. Melayani dan membantu urusan mereka
  10. Menjawab panggilan mereka dengan segera
  11. Jangan berdebat atau mengalahkan, berikan penjelasan dengan adab
  12. Segera menyambut mereka dengan gembira saat sampai di rumah dan mencium tangan
  13. Tidak mengganggu saat istirahat
  14. Jangan berbohong pada mereka
  15. Jangan pelit menafkahi mereka
  16. Sering mengunjungi
  17. Jika ada hal yang ingin diminta, sampaikan dengan lemah lembut
  18. Berlaku adil jika orangtua dan istri bertikai
  19. Musyawarahkan urusan kita dengan mereka
  20. Berziarah kubur dan sering mendoakan mereka

Pada setiap poin di atas terdapat lampiran ayat Al Qur'an atau Hadist yang menyertai. Untuk membaca lengkap lampiran tersebut, dapat dilihat pada artikel asli yang telah ditautkan di atas.


Berbakti pada Orang Tua yang Telah Tiada


Bakti pada orang tua tidak hanya dikerjakan pada Hari Ayah Nasional atau Hari ibu, namun dalam islam berbakti pada keduanya berlaku sepanjang hayat. Bahkan hingga orang tua kita telah berpulang ke rahmatullah, bukan berarti bakti kita pada mereka telah usai. Kedua orang tua telah bersusah payah melahirkan, merawat dan menghidupi kita hingga tercurah darah dan keringat, sehingga bakti anak sepatutnya tetap berjalan sepanjang hidupnya raga.

Salah satu cara berbakti pada orang tua yang telah mendahului kita adalah dengan tak henti mendoakan keduanya. Sebab doa anak sholeh dan solehah lah yang akan menjadi amal jariyah bagi bapak ibu mereka, yang akan terus berlanjut selama sang anak bernafas.


Memohonkan ampun ibu bapak


Selain mendoakan, sesuai isi hadist, kita dapat memohonkan pada Allah ampunan untuk keduanya, agar orang tua di alam kubur dapat tenang dan terbebas dari siksa. Kemudian menunaikan janji keduanya pada orang lain, memuliakan kawan keduanya semasa hidup di dunia, dan menyambung silaturrahim pada karib kerabat orang tua kita.


Hari Ayah Nasional dalam Pandangan Islam, apakah tasyabbuh?


Pengertian Tasyabbuh secara etimologis atau dari asal usul kata, adalah bentuk mashdar dari (تَشَبَّهَ – يَتَشَبَّهُ) yang berarti menyerupai orang lain dalam suatu perkara.

Sedangkan secara terminologis atau definisi, tasyabbuh adalah menyerupai orang-orang kafir dan orang-orang yang menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal akidah, ibadah, perayaan atau seremonial, hari-hari besar, kebiasaan, ciri-ciri, dan akhlak yang merupakan ciri khas bagi mereka.


Pengertian tasyabbuh


Bahaya Tasyabbuh terkait partisipasinya seseorang dalam penampilan maupun akhlak yang cenderung kepada mereka, membuat tidak ada lagi perbedaan antara umat Islam dan orang-orang kafir, sehingga dikhawatirkan kecintaan dan kedekatan terhadap kaum kafir dapat meniadakan keimanan.

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk dari mereka.”
(HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Tentu kita tidak ingin menjadi bagian dari kaum mereka dengan membuat perayaan-perayaan yang diadakan sendiri, dan tidak sesuai syariat Islam. Seperti dilansir pada situs tanya jawab seputar Islam, konsultasisyariah.com.

Pertanyaan:

Kebiasaan kami, pada setiap tahun merayakan hari khusus yang disebut istilah Hari Ibu, yaitu pada tanggal 21 Maret. Pada hari itu banyak orang yang merayakannya. Apakah ini halal atau haram, dan apakah kita harus pula merayakannya dan memberikan hadiah-hadiah?

Jawaban:

Semua perayaan yang bertentangan dengan hari raya yang disyariatkan adalah bid’ah dan tidak pernah dikenal pada masa para as-Salaf ash-Shalih. Bisa jadi perayaan itu bermula dari non-muslim, jika demikian, selain itu bid’ah, juga berarti tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hari-hari raya yang disyariatkan telah diketahui oleh kaum muslimin, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, serta hari raya pekanan (hari Jum’at). Selain yang tiga ini, tidak ada hari raya lain dalam Islam.


Demikian ulasan terkait Hari Ayah Nasional dalam pandangan Islam, semoga memberikan pencerahan bagi Sahabat semua agar lebih berhati-hati dalam mengikuti sebuah tradisi. Tanpa ada hari khusus pun Islam mewajibkan setiap penganutnya untuk berbakti pada ayah maupun ibu, dengan menjaga adab dan akhlak dalam berlaku dan bertutur, serta memuliakan mereka hingga kita tutup usia.  Karena salah satu harapan mereka adalah mempersiapkan akhirat dengan mendidik anak-anak soleh yang selalu mendoakan orang tuanya.

Wallahualam bishawab


Referensi: 

https://amp.kompas.com/
https://tekno.tempo.co/
https://rumaysho.com/
https://muslim.or.id/
https://muslimah.or.id/
https://konsultasisyariah.com/
https://asysyariah.com/
Ummi Maryama
Teman mainnya Maryam dan Hisham | Islamic Parenting - Home Education - Healthy Lifestyle Enthusiast | Partner belajar sekaligus pembelajar Al Qur'an

Related Posts

14 comments

  1. Masya Allaaah.... memanglah Adab terhadap orangtua haruslah selalu ditekankan ya mbaak...

    ReplyDelete
  2. Masyaa Allah umma ilmunya terimakasih,jadi dalam islam merayakan hari ayah termasuk tasyabuh ya umma...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Demikian seperti yang tercantum pada jawaban diatas mba Manda..

      Delete
  3. Barakallah pencerahannya, Mbak. Selama ini aku juga nggak pernah tahu kapan hari ayah, apalagi ngerayain. Meski dulu nggak pernah deket sama Bapak, tapi aku sayang beliau. Karena aku tahu tanggung jawab seorang ayah itu memang berat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaan mba dini, aku juga ga sedekat itu hubungan dengan bapak, tapi tetap kita wajib berbakti dan mendoakan beliau

      Delete
  4. Sebelumnya aku tidak tahu kapan hari ayah, dan ternyata tanggal 12 ya,.. hmm sebenarnya untuk menyayangi ayah bisa setiap saat juga ya. Tanpa perlu memperingati hari khususnya juga.

    ReplyDelete
  5. Gak harus nunggu hari ayah ya mba untuk merayakannya, kalau bisa malah setiap hari. Jazakillah khoyr ilmunya mba

    ReplyDelete
  6. Setiap hari adalah hari ayah (dan ibu) :)

    ReplyDelete
  7. Tulisannya lengkap banget Mba. Mba punya buku Adabul Mufrad ya? Bukunya cocok ga untuk orang awam mba? aku pengen beli cuma ga tau mau beli yang mana.

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email