headerummary

Manajemen Emosi sesuai Ajaran Islam

Post a Comment
Manajemen emosi sesuai syariat islam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Sebagai muslim kita perlu mengetahui manajemen emosi sesuai ajaran Islam, agar amarah yang muncul tak meluap secara berlebihan. Termasuk menghadapi perilaku anak yang sedang tantrum atau melihat kekacauan rumah yang tak kunjung henti. Bagaimana Islam mengatur hati dan pikiran manusia, supaya tidak meledak dan kembali stabil dengan cepat? Mari cari tau bersama yuk.

Mengenal Emosi


Salah satu jenis emosi yang cenderung negatif ini, kita kenal dengan istilah marah. Sebenarnya apakah marah itu? Rasulullah bersabda, "Ketahuilah! Sesungguhnya amarah itu barabapi di hati anak cucu Adam, bukanlah kalian melihat dua mata (orang marah) memerah dan urat-urat lehernya membesar" (HR. Tirmidzi).

Menurut Imam An Nawawi, marah di definisikan sebagai rekaman nafsu dari hati yang mengalirkan darah pada bagian wajah yang berakibat timbulnya kebencian pada diri seseorang.

Marah adalah bentuk ekspresi emosi yang wajar terjadi, namun dapat meluap karena ada kendali bisikan syaitan pada telinga manusia. Tentu saja, tujuan syaitan adalah menggiring sebanyak-banyaknya manusia supaya berbuat hal-hal yang bertentangan dengan agama.

Dampak bahaya dari marah, salah satunya adalah seseorang dapat dengan mudah mengumpat, menyumpahi, mencaci maki, berkata kasar, hingga melakukan pemberontakan. Hal demikian bila tak dikendalikan maka dapat merugikan banyak pihak, terutama penyesalan diri sendiri yang bisa saja tidak dapat terobati.

Ragam ekspresi marah



Penyebab Utama Emosi

Penyebab utama seseorang emosi atau marah, yang berasal dari faktor internal antara lain :
  • Kelelahan : Sebagai orang tua dewasa, kita kerap merasa pekerjaan kita, baik di kantor maupun di rumah terus menggunung dan tak kunjung usai.
  • Lapar : Kadang kita merasa tidak cukup waktu untuk sekedar duduk dan menghabiskan makanan di waktu istirahat, sebab masih ada pekerjaan lain yang menunggu. Akibatnya perut yang keroncongan dapat dengan mudah memicu emosi.
  • Mengantuk : Lelah bekerja tak ayal membuat energi kita cepat terkuras, dan timbul kantuk yang tidak kenal waktu. Usahakan penuhi hak tubuh untuk sekedar melakukan qailullah atau power nap (tidur sejenak di siang hari), agar badan dan kepala lebih fresh menyambut pekerjaan berikutnya.
  • Mood Swing : Misalnya sedang PMS (pre-menstrual period) atau baby blues
  • Takut : Ketakutan dalam pikiran yang berlebihan akan suatu hal, bisa memicu amarah terhadap hal tersebut yang tanpa sengaja terjadi di luar standar kita.
  • Stress : Adanya beban kerja atau masalah dengan seseorang bila tidak tertangani dengan baik, dikhawatirkan menjadi sumbu yang siap meledak bila ada yang menyulut emosi.
  • Terburu-buru : Saat telat datang ke suatu acara atau diburu waktu harus hadir tepat waktu, juga merupakan faktor munculnya perasaan geram.
Penyebab emosi


Manajemen Emosi sesuai Ajaran Islam

1. Membaca taawudh atau istiadhah

Bunyinya sebagai berikut

أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ

a-‘udzu billahi minas syaithanir rajiim, artinya aku berlindung kepada Allah dari gangguan syaitan yang terkutuk. Sebab penyebab timbulnya amarah adalah syaitan, maka kita meminta perlindungan langsung kepada Sang Pencipta, Allah subhanahu wa ta'ala. Perintah ini datang dari sebuah hadist.

Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, 

"Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang." 
(HR. Bukhari dan Muslim)

2. Diam dan jaga lisan

Hati dan kepala yang membara seringkali membuat lisan mudah melibatkan kata-kata tanpa dipikirkan dahulu. Akan sangat berbahaya bila yang keluar dari lisan adalah perkara yang menjerumuskan pada keburukan, maka malaikat akan mencatatnya sebagai dosa. Untuk itu dengan sigap kita harus menahan lisan agar tidak berucap ketika logika tak bekerja.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

 

3. Mengubah posisi lebih rendah

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

"Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. 
(HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Orang yang cenderung marah akan memilih posisi berdiri lebih tinggi, untuk itu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menasehatkan sebaliknya. Bila marah dalam keadaan berdiri sebaiknya langsung duduk, dan saat duduk ambil posisi berbaring. 

Mengapa duduk dan tidur?

Al-Khithabi menjelaskan, bahwa orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Ma’alim As-Sunan, 4/108)

4. Ingatlah hadist ini ketika marah

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)

Hadis dari Ibnu Umar,
Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Hadist marah


5. Segera wudhu atau mandi

Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,

"Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu." (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)

Namun hadist ini dinilai lemah oleh An Nawawi. Beberapa pakar menganjurkan untuk berwudhu saat marah, tanpa meniatkannya sebagai sunnah. Terapi ini dilakukan untuk meredam panasnya emosi dan marah. 

Seperti dikatakan Dr. Muhammad Najati, hadis ini mengisyaratkan rahasia dalam ilmu kedokteran. Air yang dingin, bisa menurunkan darah bergejolak yang muncul ketika emosi. Sebagaimana ini bisa digunakan untuk menurunkan tensi darah tinggi. Karena itulah, di masa silam, terapi mandi digunakan untuk terapi psikologi. (Hadis Nabawi wa Ilmu An-Nafs, hlm. 122. dinukil dari Fatwa islam, no. 133861).

Demikian sedikit informasi terkait penanganan manajemen emosi sesuai ajaran Islam. Selamat dipraktekkan!

Dalil tentang marah



Referensi


https://asahoshisama.com/2018/12/01/bengkel-diri-manajemen-emosi/

https://konsultasisyariah.com/18243-cara-mengendalikan-emosi-dalam-islam.html


Buku dr.Nurul Afifah berjudul Do't be angry, Mom, mendidik anak tanpa marah
Ummi Maryama
Teman mainnya Maryam dan Hisham | Islamic Parenting - Home Education - Healthy Lifestyle Enthusiast | Partner belajar sekaligus pembelajar Al Qur'an

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email